BALI EXPRESS - Hukum sebab akibat sangat diyakini oleh umat Hindu. Sebab, setiap tindakan yang dilakukan di dunia ini akan membuahkan hasil atau buah karma. Baik berupa karma baik atau disebut dengan Subha Karma maupun karma buruk atau disebut dengan Asubha Karma.
Seperti tertuang dalam dalam kitab Sarasamuscaya terbitan Ditjen Bimas Hindu, Sloka 9 menyebutkan:
Upabhogaiḥ parityaktaṁ nātmānamavasādayet, caṇḍālatve’pi mānuṣyaṁ sarvvathā tāta durllabham.
Terjemahannya: Jika seseorang tidak mencapai kemakmuran, dia seharusnya tidak sedih tentang hal itu. Sebagai manusia, meskipun hina sekali pun, adalah dicapai dengan sangat sulit.
Kadang-kadang tekanan ini dapat menyebabkan rasa sedih atau kekecewaan jika kita merasa gagal dalam mencapainya.
Penyuluh Agama Hindu, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Ni Luh Cesi, menjelaskan, bagi beberapa orang, kemakmuran mungkin berarti memiliki keluarga yang bahagia.
Sedangkan bagi yang lain, itu mungkin berarti mencapai kesuksesan dalam karier.
Yang penting adalah mengenali apa yang benar-benar penting bagi diri kita sendiri dan tidak hanya mengikuti ekspektasi atau standar yang ditetapkan oleh orang lain.
“Kesulitan dan kegagalan adalah bagian alami dari kehidupan. Kegagalan dapat menjadi pelajaran berharga yang membantu kita tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, jika seseorang tidak mencapai kemakmuran atau kesuksesan yang mereka inginkan, itu bukan berarti mereka harus merasa sedih atau hina,” jelasnya.
Baca Juga: Agus Mulyawan Menilai Pasal yang Menjerat Jero Dasaran Alit Sangat Kabur, Alasannya?
Mereka dapat menggunakan pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk merenung, merencanakan kembali tujuan mereka, dan mencari cara baru untuk mencapai apa yang mereka inginkan dalam hidup.
Penting juga untuk mencari dukungan dari teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental jika perasaan sedih atau kekecewaan tersebut menjadi berlebihan atau mengganggu kesejahteraan mental seseorang.
“Kesehatan mental adalah aspek penting dari kebahagiaan dan kemakmuran seseorang, dan berbicara dengan seseorang yang dapat membantu dapat sangat bermanfaat dalam mengatasi perasaan sedih atau kecewa,” jelas Cesi.
Dalam agama Hindu dijelaskan bahwa ada tiga cara orang bersikap di depan karma, yaitu Vikarna adalah sikap seseorang yang melawan karma. Karma-gyani adalah sikap orang yang mengalir dengan karmanya, dan Akarma adalah sikap orang yang melampaui karmanya.
Hukum karma adalah hukum mutlak alam semesta yang tidak dapat dihindari.
Dalam ajaran agama Hindu juga terdapat tiga macam modifikasi karma, yaitu Udvartana atau penambahan karma buruk karena menghadapi kehidupan dengan emosi, perasaan, pikiran, perkataan dan tindakan yang buruk.
Apavartana atau pengurangan karma buruk karena menghadapi kehidupan dengan emosi, perasaan, pikiran, perkataan dan tindakan yang bersih.
Termasuk yang baik, positif, dan Samkramana atau perubahan atau terhapusnya karma buruk karena ketekunan melaksanakan dharma, ditambah dengan ketekunan melakukan sadhana spesifik seperti meditasi tertentu.
Dia mengungkapkan, oleh sebab itu maka perlu adanya pengendalian diri agar senantiasa selalu bisa mensyukuri kelahiran sebagai manusia dengan menerapkan ajaran Panca Yama Brata dan Panca Nyama Brata.
Editor : Nyoman Suarna