BALI EXPRESS - Fenomena kerauhan di Bali saat ini menjadi stigma negatif dari orang yang tidak paham akan tradisi ini.
Kondisi ini juga diperparah dengan diviralkannya setiap ada fenomena kerauhan, ditambah dengan beragam backsound sehingga memunculkan berbagai tanggapan negatif.
Penekun Lontar, Ida Bagus Made Bhaskara, dari Geria Sunia Tampaksiring Gianyar dalam channel @Kapiyot menjelaskan, kerauhan merupakan tradisi yang sudah ada sejak era Bali Kuna, sebelum masuknya Hindu ke Bali.
Menurutnya, kerauhan adalah bagian dari peradaban animisme dan dinamisme.
Tradisi ini sebagai kepercayaan purba kalau kekuatan alam dan manusia saling berpengaruh. Ada juga kekuatan roh suci yang berinteraksi dengan manusia.
Di Bali, ketika agama Hindu masuk, konsep hubungan antara roh suci masih terbawa, dan tidak terhapuskan. Tetapi dimaknai kembali.
Menurutnya warisan animisme dan dinamisme berkembang menjadi konsep kerauhan. Ia mencontohkan seperti tari sanghyang.
“Kerauhan menjadi tradisi yang berkembang. Di setiap pura ada proses kerauhan. Ada yang tampak dan tidak tampak,” paparnya.
“Bagaimana pemangku bisa nedunang Ida Bhatara atau ngerauhang Ida Bhatara agar upacara bisa berjalan. Walaupun hanya disaksikan oleh pemangku,” lanjutnya.
Ia menambahkan, ada juga kerauhan yang bersifat tampak. Fenomena inilah yang terjadi di masyarakat bahkan cenderung kuat sekali.
Kerauhan itu tidak boleh dipandang dari sudut pandang negatif saja.
Dalam tradisi Hindu di Bali, kata Bhaskara, kerauhan ada beragam macam.
Ada kerauhan Dewa Hyang atau kerauhan Ida Bhatara Sesuhunan, Kerauhan Pitara (leluhur) atau Kerauhan Sarwa Bhuta (Bhuta kala dan rerencangan).
Kalau dilihat dari bahasa, kerauhan dimaknai sebagai rauh atau ada sesuatu yang datang.
Kerauhan itu ada yang menyebut kedatengan, ada yang memaknai sebagai kerasukan atau bermakna lebih rendah, yaitu roh bawah seperti Bhutakala atau penyakit memasuki manusia.
“Ada pembeda berdasarkan tatanan kata. Kalau roh yang masuk itu roh soci, leluhur, sesuhunan, itu namanya kerauhan.
Kalau kerasukan itu artinya kekuatan bawah seperti Bhuta-bhuti, ancangan yang masuk ke badan manusia,” imbuhnya.
Ida Bagus Bhaskara pun menyayangkan jika fenomena yang terjadi justru dimaknai mengarah ke hal yang negatif.
Apalagi setiap ada orang yang kerauhan sering diviralkan di medsos. Ironisnya, ditambah komen yang cenderung melecehkan.
Menurutnya, kalau penilaian negatif ini dibiarkan, dampaknya adalah akan kehilangan tradisi yang adilihung.
Padahal, tradisi kerauhan ini adalah sebuah fenomena supranatural yang berkaitan ritus magis Hindu di Bali.
Jika mengacu pada lontar Widhi Sastra, yang boleh kerauhan adalah pemangku dari pura itu. Bisa juga sutri, pengayah atau juru tapakan Ida Bhatara yang dipersiapkan untuk menerima komunikasi kedatangan dengan Beliau.
“Inilah yang menjadi medium untuk menyampaikan sesuatu dari sesuhunan. Jadi ini tidak boleh sembarangan. Misalnya, ada orang yang nangkil, tetapi tidak ada kaitannya dengan pengayah atau sutri. Kemudian dia kerauhan. Maka hal itu tidak dibenarkan,” katanya.
Editor : Nyoman Suarna