Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Asta Kosala Kosali: Ilmu Arsitektur Tradisional Bali, Gunakan Anatomi Tubuh sebagai Alat Ukur

Putu Agus Adegrantika • Rabu, 25 Oktober 2023 | 21:23 WIB
RUMAH : Suasana rumah masyarakat Bali yang menggunakan Asta Kosala-kosali.
RUMAH : Suasana rumah masyarakat Bali yang menggunakan Asta Kosala-kosali.

BALI EXPRESS - Tempat tinggal masyarakat Bali, khususnya yang ada di wilayah desa adat, masih memakai ukuran menurut Asta Kosala kosali.

 

Sebab Asta Kosala kosali merupakan pengetahuan arsitektur tradisional Bali.

 

Asta Kosala kosali berisi pengetahuan tentang hakikat seorang arsitek (undagi) dan hal-hal yang harus diketahui dan dipatuhi.

 

Para undagi wajib memuja dewa undagi yang disebut Bhatara Wiswakarma.  

 

Sedangkan ukuran-ukuran (sikut) dijadikan pedoman dalam melakukan kerja arsitektur.

 

Baca Juga: Tradisi Bali: Sistem Ulu Apad Perkuat Ikatan Religi Gebog Domas Bangli dan Gebog Satak Pura Indrakila

 

Termasuk teknik pemasangan bahan bangunan, tata cara mengukur luas bangunan, jenis-jenis bangunan tradisional Bali.

 

Asta kosala kosali juga memuat ajaran tentang hubungan seorang undagi dengan pekerjaan dan kewajibannya terhadap Tuhan.

 

Selain itu juga ada jenis-jenis kayu yang layak dijadikan bahan bangunan dan sesajen yang digunakan dalam mengupacarai bangunan, serta mantra-mantra yang wajib digunakan seorang undagi.

 

Dikutip dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, disebutkan bahwa Asta Kosala kosali memiliki tradisi sejarah yang panjang.

 

Tampaknya Asta Kosala kosali merupakan pengetahuan arsitektur tradisional Bali yang telah dikenal pada abad ke-9.

 

Asta Kosala kosali merupakan pengetahuan arsitektur tradisional Bali yang berisikan tentang cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci.

 

Penataan bangunan biasanya menggunakan anatomi tubuh manusia (dalam hal ini pemilik rumah atau pekarangan).

 

Pengukuran didasarkan pada ukuran tubuh, tidak menggunakan satuan internasional. Ukuran tersebut antara lain:

Baca Juga: Dipadamkan Secara Manual, Penanganan Kebakaran TPA Jungutbatu Alami Kendala Ini

 

1. Acengkang/alengkat: diukur dari ujung telunjuk sampai ujung ibu jari tangan yang direntangkan).

 

2. Agemel : diukur keliling tangan yang dikepalkan.

 

3. Aguli : diukur ruas tengah jari telunjuk.

 

4. Akacing : diukur pangkal sampai ujung jari kelingking tangan kanan.

 

5. Alek : diukur pangkal sampai ujung jari tengah tangan kanan.

 

6. Amusti : diukur ujung ibu jari sampai pangkal telapak tangan yang dikepalkan

 

7. Atapak batis : diukur sepanjang telapak kaki.

 

8. Atapak batis ngandang : diukur selebar telapak kaki.

 

Baca Juga: Sloka 13 Sarasamuscaya Ungkap Rahasia Karma, Jadi Panduan Hidup di Dunia

 

9. Atengen Depa Agung : diukur dari pangkal lengan sampai ujung jari tangan yang direntangkan.

 

10. Atengen Depa Alit : diukur dari pangkal lengan sampai ujung tangan yang dikepalkan.

 

11. Auseran : diukur dari pangkal ujung jari telunjuk yang ditempatkan pada suatu permukaan.

 

12. Duang jeriji : diukur lingkar dua jari (jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan).

 

13. Petang jeriji : diukur lebar empat jari (telunjuk, jari tengah, jari manis, kelingking) yang dirapatkan.

Baca Juga: Daftar ke KPU, Prabowo Subianto Didampingi Pimpinan Parpol Koalisi. Menteri dan Wamen

 

14. Sahasta : diukur dari siku sampai pangkal telapak tangan yang dikepal.

 

15. Atampak lima : diukur selebar telapak tangan yang dibuka dengan jari rapat. 

Editor : Nyoman Suarna
#alat ukur #Tradisional Bali #anatomi #asta kosala kosali #arsitektur