BALI EXPRESS - Umat Hindu di Bali dalam beryadnya tidak terlepas denga konsep Panca Kertya yang terdiri dari lima unsur.
Kelima unsur tersebut di antaranya Samhara yaitu peleburan; Tirobhawa yaitu penenggelaman; Utpeti yaitu upacara penciptaan kembali; Sthiti yaitu pemeliharaan; dan Anugraha atau pedanan.
Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Gede Agus Jaya Negara, M.Pd mengatakan, Panca Kertya tidak bisa dipisahkan dalam ritual khususnya metatah. Kelimanya terkait dalam proses upacara metatah.
Bagian pertama yaitu Samhara. Unsur Samhara merupakan bagian dari konsep peleburan awal dari bebagai jenis yadnya.
Hal ini dapat ditemukan dalam prosesi upacara potong gigi, sebab dalam prosesi upacara tersebut mengharapkan terjadinya peleburan dari sifat kenakanak-kanakan menjadi dewasa.
Konsep Samhara terdapat dalam prosesi upacara Magumipidangan dan Ngekeb.
Magumipidangan merupakan suatu rangkaian upacara potong gigi yang mengandung makna bahwa orang mulai menginjak dewasa, sedangkan upacara Ngekeb memiliki makna untuk mengekang diri atau nyekung sarira.
Magumipidangan dan Ngekeb pada hakikatnya merupakan konsep samhara atau peleburan, yakni peleburan atau pemusatan pikiran dalam melangkah menjadi lebih dewasa, sehingga nantinya berbagai gelombang dan riakan pikiran dapat ditangkal akibat perkembangan biologis manusia.
Sebab konsep peleburan tidak bisa dipandang sebagai sebuah rangkaian menghapus sesuatu, namun secara halus adalah bagaimana melakukan difusi mental dan pikiran ke arah ketajaman dan ketenangan rohani.
“Jadi Samhara dalam upacara dalam potong gigi tepatnya pada upacara Magumipidangan dan Ngekeb merupakan suatu perubahan status diri yang diwarnai dengan pengendalian diri,” katanya.
Konsep selanjutnya adalah Tirobhawa. Unsur ini sebagai sebuah prosesi yadnya yang bertujuan melakukan penenggelaman sifat negative dan menumbuhkan sifat positif. Supaya nantinya lebih mampu menonjolkan sifat positif atau kebijaksanaan.
Kemudian bagian dari Panca Kertya selanjutnya adalah Tirobhawa. Dalam upacara potong gigi, Tirobhawa dapat dilihat dari prosesi upacara Mabyakala, yaitu suatu upacara yang mengandung makna untuk membersihkan diri dari pengaruh negatif yang melekat pada diri.
Demikian konsep Tirobhawa memberikan makna secara filosofis untuk menghilangkan kekotoran dalam diri, sehingga dengan hilangnya kotoran akan mampu menumbuhkan bibit yang baik dalam proses penciptaan yang akan dilaksanakan.
Konsep Utpeti merupakan sebuah konsep dari Panca Kertya yang mengajarkan tentang konsep penciptaan kembali terhadap suatu unsur atau materi yang ada.
Konsep Utpeti dalam upacara potong gigi dapat ditemukan dalam pelaksanaan aktivitas atau prosesi yang dilaksanakan di tempat potong gigi yang dirangkaiakan dengan prosesi Nyembah Dewa Surya.
Tujuannya untuk memohon upasaksi, sedangkan menyembah Sang Hyang Smara Ratih untuk menyucikan sukla dan swanita. Mohon tirta kehadapan Sang Hyang Smara Ratih sebagai lambang anugerah dalam upacara potong gigi.
Prosesi lainnya adalah Ngayab banten pengawak, sebagai simbol bahwa seseorang sudah mulai menginjak tingkat remaja.
Metatah, yaitu mengasah gigi seri dan gigi taring sebagai unsur menghilangkan atau mengekang sifat sad ripu manusia sehingga dalam mulai kehidupan baru diwarnai dengan hal-hal yang baik.
Menginjak banten paningkeb, yaitu suatu sarana upacara yang digunakan untuk mengharmoniskan diri dengan alam semesta, dengan adanya keharmonisan sudah barang tentu mampu menjalani kehidupan yang lebih baik.
“Mencermati unsur utpeti dalam potong gigi memberikan gambaran bahwa pengawalan sebuah tingkat kehidupan baru hendaknya betul-betul dipahami sehingga nantinya betul-betul bermakna dalam kehidupan yang ditandai dengan prinsip dan aktivitas kehidupan baru juga,” paparnya.
Konsep sthiti dalam Panca Kertya merupakan suatu prosesi upacara pemeliharaan, dalam kaitannya dengan upacara potong gigi konsep sthiti ini dapat ditemukan setelah prosesi mengasah gigi, yaitu tepatnya pada prosesi mapedambel yang memiliki makna agar Panca Dewata tentang menjaga kehidupan orang yang melaksanakan potong gigi.
Di samping itu juga konsep mapedambel ini bertujuan agar si anak dalam kehidupan masa remaja dan seterusnya menjadi orang yang bijaksana, yaitu tabah menghadapi terpaan hidup yang penuh suka dan duka serta mampu melaksanakan ajaran agama Hindu.
Bila dilihat secara simbolik konsep sthiti dalam mapedambel ditandai dengan berbagai atribut, yaitu menggenakan kain putih, kampong kuning dan selempang smara ratih sebagai simbol restu dari Dewa Smara dan Dewi Ratih; memakai benang pawitra berwarna tridatu sebagai simbol pengikatan diri terhadap norma-norma agama; mencicipi sad rasa yaitu enam macam rasa berupa rasa asam dan pahit sebagai simbol agar tabah menghadapi peristiwa-peristiwa kehidupan yang kadang-kadag tidak menyenangkan.
Rasa pedas mempunyai simbol agar seseorang tidak cepat marah bila mendengarkan kata-kata yang menjengkelkan.
Rasa sepet sebagai simbol supaya taat menjalani dan melaksanakan norma-norma agama.
Rasa asin sebagai simbol kebijaksanaan dan selalu meningkatkan kualitas diri.
Rasa manis sebagai simbol kehidupan yang bahagia lahir bathin sesuai dengan tujuan hidup yang dicita-citakan
“Jadi demikian konsep sthiti dalam Panca Kertya yang tertuang dalam prosesi mapedambel upacara potong gigi. Harapannya supaya manusia mampu menjaga kehidupannya dari berbagai godaan dan mampu terus mengembangkan ajaran agama Hindu secara optimal dalam kehidupan sehingga nantinya dapat dikatakan sebagai manusia yang arif dan bijaksana,” ungkapnya.
Editor : Nyoman Suarna