BALI EXPRESS - Unsur anugrah dalam Panca Kertya merupakan bagian akhir dari berbagai tatananan upacara atau ritual yang dilaksanakan oleh umat Hindu.
Konsep anugrah dalam upacara potong gigi dapat dicermati dari prosesi upacara mejaya-jaya yang ditandai dengan natab banten dengan tujuan untuk memohon anugerah kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar apa yang menjadi tujuan melaksanakan upacara dapat terlaksana.
Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Gede Agus Jaya Negara, M.Pd mengatakan, upacara mejaya-jaya ini memberikan makna sebagai simbol kemenangan dalam mengatasi sad ripu sehingga dapat menemukan hakekat manusia yang sejati.
Unsur anugraha selanjutnya dapat ditemukan dalam rangkaian upacara mapiton, yaitu prosesi memohon permakluman ke pada Ida Sang Hyang Widhi bahwa seseorang telah lepas dari berbagai pengaruh kotoran terutama sad ripu.
Mencermati tentang susunan upacara potong gigi bila dikaji dari aspek Panca Kertya, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pelaksanaan upacara potong gigi memiliki bagian atau prosesi yang lengkap dalam usaha memanusiakan manusia untuk menemukan jati dirinya.
“Atau dengan kata lain, antara upacara potong gigi dengan ajaran Panca Kertya merupakan sesuatu aktivitas keagamaan yang menyatu atau integral dalam membangun komponen yadnya,” tutupnya.
Seperti diketahui, umat Hindu di Bali dalam beryadnya tidak terlepas dengan konsep Panca Kertya, yaitu Samhara, Tirobhawa, Utpeti, Sthiti dan Anugraha atau pedanan.
Hal ini dapat ditemukan dalam prosesi upacara potong gigi, sebab dalam prosesi upacara tersebut mengharapkan terjadinya peleburan dari sifat kenakanak-kanakan menjadi dewasa.
Editor : Nyoman Suarna