BALI EXPRESS - Banyak sastra yang mengatakan bahwa kesempatan hidup menjadi manusia adalah terbaik.
Apapun bisa terjadi dan dilakukan apabila telah memiliki kesempatan hidup menjadi manusia.
Namun, manusia sering bingung dalam merancang sebuah perbuatan bermanfaat bagi hidup.
Sering kali kagiatan yang dipandang bermanfaat hanyalah hal-hal yang menyenangkan bagi dirinya sendiri.
Entah konteks menyenangkan itu diperoleh dari tindakan baik maupun tindakan buruk. Lantas bagaimana pandangan sastra terkait hal pokok yang harus diusahakan ketika menjelma sebagai manusia ? Berikut ulasan Sarasamuscaya Sloka 16 terbitan Ditjen Bimas Hindu.
“Ikang manggih si dadi wwang, prasiddha wĕnang ring dharmasadhāna, tātan ĕntas sangke sangsāra, kabañcana ta ngaranika.”
Terjemahannya:
Dia yang bisa menjelma menjadi manusia bisa dan mampu menjalankan dharma. Jika tidak bisa melepaskan dirinya dari saṁsāra, rugilah namanya.
Sarasamuscaya Sloka 16 mengatakan bahwa kesempatan menjadi manusia dinilai mampu berbuat dharma.
Manusia adalah mahluk dengan jnana utama yang dinilai mampu membedakan hak baik maupun buruk.
Hal ini menjadi dasar pandangan bahwa manusia hendaknya selalu mengusahakan perbuatan baik (dharma), dibandingkan adharma (perbuatan buruk).
Hal ini dapat terjadi, apabila perbuatan manusia dipenuhi oleh aspek dharma.
Ketika manusia dipenuhi dengan perbuatan dharma, maka memungkinkan adanya karma wasana yang utama berupa kebaikan.
"Hal inilah yang akan menentukan arah selanjutnya dari atma manusia, baik menuju ke jalan kelahiran kembali ataupun moksa (terbebas dari saṁsāra)," ujarnya.
Apabila masih terjadi saṁsāra maka hal itu menunjukkan kegagalan dalam berbuat dharma dalam hidup. Mengingat, kelahiran kembali dari manusia dikarenakan masih adanya rekaman pengaruh karma wasana buruk ketika menjalani hidup sebelumnya.
Oleh sebab itu, kelahiran kembali sebagai manusia pada dasarnya adalah kesempatan baru yang diberikan oleh Tuhan untuk memperbaiki perbuatan salah pada kehidupan sebelumnya.
Semasih manusia mengalami saṁsāra, maka itu dipandang sebagai kerugian, mengingat hal tersebut menandakan minimnya kadar perbuatan dharma dalam rekaman karma manusia.
Dengan demikian, manusia Hindu hendaknya selalu menguasahakan perbuatan dharma dari kesempatan hidup saat ini.
Jangan menyia-nyiakan kesempatan hidup hanya untuk perbuatan negatif.
"Perbuatan dharma secara tulus wajib dilakukan, agar nantinya mampu mengarahkan Sang Atma menuju moksa," pungkas Danu.
Editor : Nyoman Suarna