BALI EXPRESS - Upacara Ngusaba Satuh di Desa Adat Angantelu, Karangasem, Bali sering disebut dengan istilah pangusabaan.
Puncak acara Ngusaba Satuh dilakukan pada Sasih Jyesta, penanggal ping tiga.
Pelaksanaan upacara Ngusaba Satuh dimulai pukul 08.00 Wita, dipimpin oleh Jro Mangku Pura Dalem Banjar Pakel.
Selanjutnya pada sore hari, tepatnya pukul 14.00 Wita, merupakan puncak upacara Ngusaba Satuh, pelaksanaan upacara dipimpin seorang sulinggih.
Rangkaian persembahyangan upacara Ngusaba Satuh diawali dengan upacara mabyakala, maprayascita dan pangelisan, dipimpin sulinggih.
Adapun banten pokok yang digunakan antara lain banten suci yang dihaturkan di semua pelinggih.
Banten lainnya adalah caru kucit butuhan selem, caru amanca, bebangkit 2 buah yang diletakkan natar jeroan pura.
Sedangkan di pelinggih Surya dihaturkan banten ayaban tumpeng 7, di tungkub Ida Bhatara Dalem dihaturkan banten sumbu gede, bayuhan/gebogan satuh 2 buah dan santun ngempat 2 buah.
Setelah itu, pada malam harinya dilakukan upacara Napak Pertiwi yang merupakan prosesi Ida Bhatara Sesuhunan dan Ida Bhatara Dalem tedun di bagian luar Pura Dalem dengan tujuan untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan.
Adapun banten yang digunakan yaitu banten ayaban tumpeng 7, segehan agung yang dilengkapi dengan penyambleh itik selem.
Upacara penyineban yang merupakan tahap akhir dari suatu upacara, dilakukan sehari setelah upacara Ngusaba Satuh.
Tujuannya untuk mengembalikan linggih Ida Bhatara Dalem dan Ida Bhatara Tri Kahyangan ke penyimpenan.
Sebagai tanda semua rangkaian upacara telah berakhir, Ida Bhatara mider (mengitari pelinggih) Pura Dalem sebanyak 3 kali yang disebut dengan Airsanya.
Adapun banten yang digunakan dalam proses penyineban antara lain banten suci, pejati, dan banten ayaban tumpeng.
“Ngusaba Satuh bertujuan untuk memohon keharmonisan dan keseimbangan alam serta sebagai wujud rasa terimakasih umat atas segala anugrah-Nya,” tutup tokoh masyarakat Desa Adat Gegelang, Jro Wayan Suwita.
Editor : Nyoman Suarna