BALI EXPRESS - Pemangku Pura Jro Mangku Kadek Sinar Bali, 39, menceritakan, sebelum menjadi tempat pemujaan bagi umat Hindu Bali Utara, kawasan Pura Goa Tirta Sunia merupakan tebing yang ditumbuhi oleh semak belukar.
Bahkan, kawasan Pura Goa Tirta Sunia yang masuk ke wilayah Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng kerap dijadikan sebagai tempat untuk berlatih bagi pasukan TNI AD.
Sekitar tahun 1994, kakek Jro Mangku Kadek Sinar Bali bersama sang ayah perlahan mulai membersihkan tempat itu, lantaran mendapat pawisik gaib.
Leluhurnya merasa ada pawisik gaib berupa getaran spiritual yang terpancar dari tempat itu.
“Memang sudah ada goa seperti ini. Panjangnya sekitar 10 meter tetapi buntu,” tuturnya.
“Hanya orang yang memiliki tingkat spiritual tinggi dan jnana tinggi yang bisa melihat isi goa dan tembusnya ke mana,” katanya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Ia menceritakan, setelah dibersihkan, almarhum sang kakek yang memiliki usaha babi merasa dilancarkan usahanya.
Sang kakek akhirnya secara bertahap mulai menata areal Pura Goa Tirta Sunia, seperti membersihkan semak belukar, membangun wantilan, membuat tembok penyengker sebagai pembatas.
Sejak itulah pemedek mulai berdatangan untuk nangkil ke Pura Goa Tirta Sunia.
Perlahan Pura Goa Tirta Sunia menjadi salah tempat pemujaan umat Hindu di Bali Utara yang lokasinya berdekatan dengan Pura Pulaki di Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.
Sebagai tempat pemujaan bagi umat Hindu Bali Utara, Pura Goa Tirta Sunia ini berada di dinding tebing setinggi 30 meter.
Lokasinya berada sekitar 20 meter di sebelah timur perbatasan antara Desa Banyupoh dan Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak.
Secara struktur, pura terbagi atas tiga areal, yakni areal nista mandala, madya mandala dan utama mandala.
Editor : Nyoman Suarna