Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Rejang Sang Hyang Iinan Ditarikan Wanita Menopause, Wujud Syukur Masyarakat Pujungan

I Putu Mardika • Selasa, 7 November 2023 | 19:47 WIB
REJANG: Tari Rejang Sang Hyang Iinan ditarikan para wanita yang sudah menopause saat Ngusabha Negtegang di Pura Puseh dan Pura Desa Pujungan.
REJANG: Tari Rejang Sang Hyang Iinan ditarikan para wanita yang sudah menopause saat Ngusabha Negtegang di Pura Puseh dan Pura Desa Pujungan.

BALI EXPRESS -  Sebagai bagian dari tradisi Bali, Tari Rejang Sang Hyang Iinan merupakan tari wali yang dipentaskan saat Ngusaba Negtegang pada Sasih Kapat di Pura Puseh dan Pura Desa, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan.

Sebagai wujud syukur masyarakat Desa Pujungan, tari Rejang Sang Hyang Iinan ini sangat disakralkan dan hanya ditarikan oleh wanita yang sudah mengalami menopause.

Bendesa Adat Pujungan, I Nyoman Yudana mengatakan, belum ditemukan sejarah secara tertulis tentang Tari Rejang Sang Hyang Iinan.

Namun, tarian ini diwariskan secara turun-temurun dan diyakini sebagai wujud syukur masyarakat Pujungan.

Tari Rejang Sang Hyang Iinan identik dengan ritual keagamaan di Desa Pujungan yang ditarikan pada saat upacara Ngusaba Negtegang pada Sasih Kapat.

Tarian ini mempunyai makna sebagai rasa syukur masyarakat desa atas hasil panen sumber daya alam setiap tahunya, mengingat sebagian besar profesi masyarakat Pujungan adalah petani.

“Upacara Ngusaba Negtegang sebagai simbol wujud syukur masyarakat atas panen yang telah diperoleh setiap musim panen,” jelasnya

“Kata ‘enteg’ berarti keseimbangan, jadi upacara ngentegang berarti memohon agar ekosistem pada alam tetap seimbang dan terjaga,” paparnya.

Sedangkan kata “Iinan” berarti linggih atau tempat bersemayam Dewi Ayu Manik Galih yang diyakini sebagai dewi kesuburan.

Sosoknya diinterpretasikan berupa canang Iinan atau jerimpen berukuran besar.

Canang Iinan atau jerimpen ini dibuat dari hasil alam berupa, daun kelapa, daun aren, padi, kopi, daun beringin, serta berbagai buah-buahan dan umbi-umbian.

Hasil bumi ini diperoleh masyarakat dari hasil pertanian di Desa Pujungan.

Ia menjelaskan, Rejang Sang Hyang Iinan ditarikan di halaman pura (madya mandala) atau di halaman tengah pura.

Lokasi ini sebagai tempat berlangsungnya seluruh rangkaian upacara.

Para penari rejang ini adalah sekelompok wanita yang sudah lanjut usia atau sudah mengalami menopause atau sudah tidak mengalami menstruasi lagi.

Para penari rejang Sang Hyang Iinan dianggap sebagai perantara antara dunia manusia dan dunia roh, serta memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan para dewa dan leluhur melalui gerakan tari mereka.

Para penari yang sudah melewati masa menstruasi atau menopause ini dianggap memiliki kekuatan dan kebijaksanaan khusus.

Gerakan tari mereka yang lemah gemulai menggambarkan keanggunan dan kehalusan yang menarik perhatian.

Meskipun gerakan mereka mungkin tidak sekuat atau segesit seperti penari yang lebih muda, namun gerakan lemah gemulai mereka menunjukkan kedalaman pengalaman dan kebijaksanaan yang didapat dari usia dan pengalaman hidup mereka.

“Jumlah penari antara 7 hingga 15 orang. Syarat lain untuk menjadi penari tari ini adalah mereka harus sudah menopause dan memiliki niat yang tulus dan ikhlas dalam mempersembahkan tarian ini kepada Dewi Sri,” katanya.

Herpes Zoster pada kulit. (halodoc.com)
Herpes Zoster pada kulit. (halodoc.com)
Editor : Nyoman Suarna
#menopause #bali #pujungan #Sang Hyang Iinan #rejang #tradisi #Wujud Syukur