Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Hindu Bali: Mohon Tirta Pamutus di Pura Jati, Ini Banten yang Dihaturkan saat Maprani

I Putu Mardika • Rabu, 8 November 2023 | 19:38 WIB
BANTEN: Selain memohon tirta pamutus dari Ida Bhatara Siwa Bhujangga di Pura Jati, ada sejumlah banten atau sesaji yang dihaturkan saat Maprani di Pura Ulun Danu Batur.
BANTEN: Selain memohon tirta pamutus dari Ida Bhatara Siwa Bhujangga di Pura Jati, ada sejumlah banten atau sesaji yang dihaturkan saat Maprani di Pura Ulun Danu Batur.

BALI EXPRESS - Hindu Bali memiliki berbagai tradisi unik. Salah satunya adalah maprani di Pura Ulun Danu Batur saat upacara Ngusaba Kedasa.

Maprani di Pura Ulun Danu pada Ngusaba Kadasa dipimpin oleh Jro Gede Duuran dan Jro Gede Alitan. Selain itu juga dibantu para pemangku dan pengayah.

Serangkain Maprani, krama memohon tirta pamutus dari Ida Bhatara Siwa Bhhujangga yang berstana di Pura Jati untuk kelancaran upacara tersebut.

Pura ini berdiri di pinggir danau Batur, dan dipercaya sebagai Bhagawanta di Pura Ulun Danu Batur.

Sarana yang digunakan saat Maprani di antaranya Suci Soroan (Bhakti Piodalan Alit) Sorohan, terdiri dari tiga jenis Banten yang diikat jadi satu. Ketiga Banten itu adalah Peras, Tulung dan Sesayut.

Kemudian ada sarana Pabersihan yang disebut Reresik, Pasucian. Alasnya memakai sebuah ceper, taledan dapat pula dihiasi dengan plekir atau trikona.

Di atasnya ditempeli dengan 7 buah tangkih yang masing-masing berisi perlengkapan berupa alat-alat pembersih seperti: Ambuh yaitu sarana untuk pencuci rambut, berupa kelapa diparut atau daun pucuk diiris.

Ada pula sarana Segeh Agung, memakai alas nyiru atau tempeh.

Di atasnya diisi 11 atau 33 buah tangkih, masing-masing tangkih diisi nasi, lauk-pauk, dengan bawang, jahe dan garam.

Kemudian dilengkapi dengan sebuah daksina, atau alat perlengkapan daksina itu ditaruh begitu saja pada tempat tersebut, tidak dialasai dengan bakul, dan kelapanya dikupas sampai bersih.

Sedangkan untuk menghaturkan, biasanya Segeh Agung disertai dengan penyambleh (ayam, itik, babi yang belum dikebiri, kucit butuan) yang masih hidup. Penggunaan penyambleh ini disesuaikan dengan kepentingan dan tempatnya.

Waktu menghaturkan, segala perlengkapan yang ada pada daksina itu dikeluarkan. Sedangkan telur dan kelapanya dipecahkan, diikuti dengan pemotongan penyamblehan dan akhirnya tetabuhan.

Segehan Cacahan memakai alas sebuah taledan (daun) atau tangkih.

Di atasnya diisi 6/7 buah tangkih.

Lima buah tangkih diisi nasi putih, sedangkan satunya lagi diisi bija ratus (lima jenis biji-bijian seperti jagung, jagung nasi jawa, godem dan jali).

Sedangkan tangkih yang satu lagi diisi beras, base tampel, benang putih dan uang.

Bila mengambil enam buah tangkih, maka bija ratus dan lain-lainnya diijadikan satu tangkih.

Sebagai lauk pauknya adalah bawang, jae dan garam, kemudian dilengkapi dengan sebuah canang genten atau canang biasa.

Segehan ini dapat diwarnai sesuai dengan kepentingannya.

Ayam hidup ini digunakan sebagai penyambleh pada saat Ida Bhatara katuran Segehan Agung dengan cara dipotong kepalanya.

“Yang digunakan sebagai tetabuhan adalah tuak, arak dan berem. Tetabuhan ini digunakan setelah menghaturkan Segehan Agung dan ayam penyambleh,” sebutnya.

Editor : Nyoman Suarna
#Pura Jati #bali #Banten #maprani #hindu #tradisi #tirta pamutus