Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jaga Kelestarian Tradisi Bali, Tiga Tari Baris Sakral di Desa Adat Penglipuran Dilindungi Awig-awig

I Putu Mardika • Selasa, 14 November 2023 | 16:36 WIB
TARI BARIS BEDIL: Pementasan tari Baris Bedil dilaksanakan saat upacara di Pura Penataran dan Pura Puseh Desa Adat Penglipuran dalam upaya menjaga kelestarian tiga tari baris sakral yang  dilindungi a
TARI BARIS BEDIL: Pementasan tari Baris Bedil dilaksanakan saat upacara di Pura Penataran dan Pura Puseh Desa Adat Penglipuran dalam upaya menjaga kelestarian tiga tari baris sakral yang dilindungi a

BALI EXPRESS - Upacara keagamaan yang diselenggarakan di Pura Penataran dan Pura Puseh Desa Adat Penglipuran selalu dilengkapi dengan pementasan tarian sakral, di antaranya Tari Baris Jojor, Tari Baris Presi dan Tari Baris Bedil.

Ketiga tarian ini masih lestari hingga kini karena dikuatkan oleh awig-awig.

Seperti diketahui, tari baris dikenal sebagai salah satu peninggalan kesenian pra-Hindu, yang sekarang telah dikombinasikan oleh agama Hindu dan dijadikan seni sakral.

Menurut lontar Usana Bali, tari baris diperkirakan telah ada sejak abad ke-9.

Pementasan tari-tarian sakral, seperti Tari Baris Jojor, Baris Presi, Baris Bedil, selain dipentaskan saat upacara Dewa Yadnya di Desa Adat Penglipuran, juga dipentaskan pada saat penyelenggaraan upacara tertentu di Pura Kehen Kabupaten Bangli dan di Pura Besakih.

Kelian Adat Desa Penglipuran, Wayan Budiartana menjelaskan, keberadaan tari baris tersebut tidak terlepas dari upacara Dewa Yadnya di Desa Adat Penglipuran.

Agar tarian ini tetap lestari maka dimasukkan ke awig-awig.

Di dalamnya diatur soal piodalan, mulai dari persiapan sampai pelaksanaan upacara, terkait dengan warga yang terlibat ngaturang ayah.

“Pada umumnya seluruh anggota masyarakat, penari maupun penabuh ikut terlibat sesuai dengan pembagian tugas. Semua ini dikoordinir oleh prajuru Desa Adat Penglipuran,” paparnya.

Jumlah penari baris sakral bervariasi. Tari Baris Jojor, misalnya, penarinya berjumlah enam belas orang. Mereka adalah anggota masyarakat yang belum kawin yang bergabung dalam organisasi sekaa teruna-teruni.

Penari Baris Presi berjumlah empat orang tetapi sekaa (anggota kelompok) sebanyak dua belas orang. Mereka sudah berkeluarga, tetapi bersetatus pengayah pengerob.

Selanjutnya penari Baris Bedil berjumlah enam belas orang. Sedangkan sekaa atau anggota kelompoknya berjumlah dua puluh orang. Mereka adalah sudah berkeluarga, tetapi berstatus pengayah pengerob.

Selain ditarikan para pengayah pengerob, tari Baris Presi dan Baris Bedil juga bisa ditarikan oleh pengayah pengarep yang mempunyai bakat menari.

Sedangkan para penabuh (pemain gamelan) adalah masyarakat yang berstatus pengayah pengerob maupun pengarep.

Namun yang terpenting adalah para penabuh adalah orang yang mempunyai bakat atau keahlian memainkan gamelan.

Penabuh tari baris ini jumlahnya empat puluh orang. Biasanya disesuaikan dengan jumlah perangkat musik atau gambelan yang ada.

Anggota sekeha gong sebagai pendukung pementasan tari baris sakral ini diambil dari pengayah pengerob yang memang wajib menjadi anggota sekaa gong.

Di samping itu, juga dapat diambil dari pengayah yang menekuni seni tabuh atau gamelan gong gede.

 “Ketiga jenis tarian baris tersebut hanya boleh ditarikan oleh laki-laki. Dan dalam pementasannya diiringi gamelan gong gede dari sekaa gong Desa Adat Penglipuran,” imbuhnya.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #tari baris #awig-awig #tradisi #desa adat penglipuran #kelestarian #dilindungi