BALI EXPRESS - Tradisi Ngerebeg di Desa Adat Manduang, Kecamatan/Kabupaten Klungkung merupakan sebuah lelaku spiritual yang hingga kini masih dilestarikan.
Tradisi Ngerebeg ini bertujuan untuk menjaga desa agar bebas dari kekuatan negatif dan menghindari kegeringan.
Bendesa Adat Manduang, Jro Nyoman Merta menjelaskan, tradisi Ngerebeg biasanya dilakukan enam bulan sekali.
Namun tak menutup kemungkinan dilakukan sebelum enam bulan, jika ada warga yang terkena kegeringan atau kesakitan.
Kata Jro Nyoman Merta, bila ada masyarakat yang terkena bencana atau kesakitan maka Ida Bhatara Sesuunan langsung tedun untuk “melancaran” mengelilingi desa guna menyembuhkan masyarakat, walaupun belum waktunya untuk melaksanakan tradisi Ngerebeg.
Tradisi Ngerebeg pernah dilakukan tiga bulan sekali, karena saat itu ada masyarakat yang terkena penyakit atau kegeringan.
Tetapi seiring berjalannya waktu, tradisi ini hanya dilakukan setiap enam bulan sekali.
Tradisi Ngerebeg dilaksanakan setiap enam bulan sekali, pada Selasa (Anggara) Kliwon Wuku Kulantir.
Dalam pelaksanaannya tradisi Ngerebeg tidak memandang batas usia maupun golongan.
“Kami menyakini unsur magis yang ada di dalam pelaksanaan tradisi Ngerebeg yang sudah dilaksanakan sejak dulu hingga sekarang,” katanya.
“Apabila tradisi Ngerebeg tidak dilaksanakan, dikhawatirkan menimbulkan dampak negatif bagi warga Desa Adat Manduang,” katanya.
Upacara Ngerebeg berlangsung dari sore hari sekitar pukul 17.00 Wita.
Tradisi ini diawali dengan diturunkannya (tedun) semua sesuhunan yang ada di Pura Penyimpenan, seperti Ida Bhatara Alit Sakti, Ida Bhatara Lingsir beserta ancangannya, dan Ida Bhatara Putu, Ida Bhatara Made.
Semua krama berkumpul di Pura Penyimpenan untuk melakukan persembahyangan.
Setelah persembahyangan warga membentuk barisan. Warga yang dapat tugas mundut (memikul) sesuhunan berada di depan, sedangkan warga lainnya mengikuti (mengiringi) di belakang sekaa gong dengan berjalan ke utara menuju Pura Dalem.
Tiba di Pura Dalem dihaturkan upacara dengan sarana banten yang sama dengan di Pura Penyimpenan. Di tempat ini warga juga melakukan persembahyangan.
Seusai persembahyangan, sesuhunan diiringi berjalan ke selatan menuju Catus Pata (perempatan agung), ke pertigaan desa, ke batas selatan (tanggun) desa, ke perempatan agung delod bingin.
Di beberapa tempat ini sesuhunan dihaturkan banten yang sama dan warga juga melakukan persembahyangan.
Setelah itu baru kembali ke Pura Penyimpenan untuk nyineb dan ngelinggihang Ida Sesuunan.
Banten yang digunakan pada tradisi Ngerebeg adalah banten tulung urip (khusus masyarakat yang membuat), rayunan kepelan, ajuman, prayascita dan pengambean.
Usai Ngerebeg krama nunas rayunan kepel dengan irisan telur ayam yang direbus.
Rayunan ini dipercaya masyarakat sebagai simbol nunas kerahayuan dan keselamatan dari Ida Bhatara Sesuhunan.
“Masyarakat juga natab banten tulung urip yang dibuat sendiri, sebagai simbol memohon keselamatan,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna