Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Umat Hindu di Bali Mengenal Cuntaka, Ini Penyebab dan Upakaranya

Putu Agus Adegrantika • Sabtu, 2 Desember 2023 | 22:09 WIB
Umat Hindu sembahyang di Pura Agung Besakih, Karangasem, Bali saat rerahinan belum lama ini.
Umat Hindu sembahyang di Pura Agung Besakih, Karangasem, Bali saat rerahinan belum lama ini.

BALI EXPRESS-  Umat Hindu di Bali mengenal istilah cuntaka. Cuntaka  menurut agama Hindu merupakan suatu keadaan yang dirasa tidak suci.

Sehingga saat cuntaka tidak diperkenankan untuk melakukan aktivitas keagamaan, mulai dari memasuki tempat suci, melaksanakan ritual, menghaturkan sesajen maupun  kegiatan keagamaan lainnya.

Cuntaka ini pun memiliki makna tidak suci menurut pandangan Hindu.  Di mana,  yang disebut dengan tidak suci adalah keadaan yang membuat goyah, tidak tenang dan tidak mantap melaksanakan upacara sesuai Hindu.

Salah Satu Penyuluh Agama Hindu di Bali Ni Luh Deny Purwanti menyebutkan beberapa penyebab cuntaka tersebut.

Pada umumnya yang membuat cuntaka atau sebel adalah kematian, kelahiran dan perkawinan. Namun tampaknya terdapat beberapa penyebab kesebelan itu terjadi.

“Yang menyebabkan cuntaka atau sebel ada juga karena menggugurkan, kotor kain atau haid bagi perempuan. Kumpul kebo, gering agung, hamil tapi tidak ada prianya, kelahiran tanpa ada upacara pernikahan, dan cuntaka melayat,”  jelas Deny, Jumat, 1 Desember 2023.

Selain itu terdapat juga cuntaka atau leteh karena disebabkan oleh hewan maupun tumbuhan. Seperti hewan sapi, kebo, kambing, dan babi yang masuk ke tempat suci, namun kalau digunakan untuk upacara, hal tersebut tidak membuat leteh.

“Begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan yang hidup di kuburan,  terkena petir dianggap leteh.  Alat-alat yang digunakan sehabis upacara kematian juga dianggap leteh,” imbuh Deny.

Disebutkan juga dalam upacara pembersihan cuntaka itu terdiri dari lamanya yang bersangkutan mengalami kekotoran, paling cepat tiga hari.

“Upacara pebersihan dapat melakukan dengan keramas dan maprayascita,” tegasnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Cuntaka #hindu