BALI EXPRESS - Perbuatan memberikan arah bagi kehidupan manusia. Meskipun pikiran sering diposisikan sebagai “nakhoda” badan, apabila badan itu tidak bergerak maka tidak ada wujud nyata dari pikiran.
Setiap aksi yang dilaksanakan manusia akan mendatangkan sebuah reaksi. Perbuatan yang dilakukan secara sadar oleh manusia akan memberikan jalan bagi muara hidup dari manusia itu sendiri.
Perbuatan baik diharapkan dilaksanakan secara konsisten oleh manusia. Bahkan, manusia diharapkan menghiasi hidupnya dengan selalu berbuat baik.
Konsistensi berbuat baik akan mampu mengantar hidup dalam kedamaian, serta berujung pada kesejahteraan lahir batin.
Setiap generasi yang lahir di dunia selalu diinternalisasikan dengan tuntunan berbuat baik, sebagai laku utama dan keutamaan hidup menjadi manusia.
Oleh sebab itu, perbuatan baik merupakan dambaan utama ketika manusia lahir dan berkembang menjadi makhluk utama di dunia ini.
Namun manusia cenderung tidak mempertimbangkan konsistensi berbuat baik dalam hidupnya.
Sebagian besar manusia berpandangan bahwa konsekuensi lahir sebagai manusia adalah memiliki dualisme perbuatan, yakni baik dan buruk.
Terkait hal itu, penyuluh agama Hindu, Made Danu Tirta, mengatakan, kencenderungan yang terjadi adalah manusia lebih banyak berpihak pada perbuatan buruk, dibandingkan dengan perbuatan baik.
Sehingga, notabene hidup hanya dihiasi dengan perbuatan buruk. Kondisi ini menyebabkan manusia berlaku baik menjadi dambaan pada zaman ini.
Perbuatan baik, teranngnya, adalah karma utama yang menjadi wujud dari realisasi dharma. Kemampuan berbuat baik menandakan keberhasilan melaksanakan keutamaan dharma.
Terkait keutamaan dharma itu, maka kitab Sarasamusccaya Sloka 24 yang dikutif dari buku terbitan Ditjen Bimas Hindu, menyebutkan:
“Mwang kottaman ikang dharma, prasiddha sangkaning hitāwasāna, irikang mulahakĕn ya, mwang pinakāśraya sang paṇḍita, sangksĕpanya, dharma mantasakĕnikang triloka.”
Terjemahannya:
“Adapun keutamaan dharma itu merupakan sumber kebahagiaan pada waktu mendatang bila dikerjakannya serta (ia akan) menjadi perlindungan para ilmuwan. Jelasnya, hanya dharma yang mampu melebur ketiga alam.”
Baca Juga: Diduga Nistakan Sejarah, Ade Armando Sebut Politik Dinasti ada di Yogyakarta
Petikan Sloka 24 Kitab Saracamuscaya mengajarkan bahwa dharma adalah sumber kebahagiaan.
Berbuat dharma menjadikan laku baik dan membangun harmonisasi bersama sebagai tujuan utamanya. Hidup yang harmonis baik secara internal maupun eksternal, tentunya berujung pada kebahagiaan.
Kebahagiaan sebagai akibat dari konsistensi berbuat dharma, bahkan dikatakan mampu menjamin kebahagiaan apabila manusia tetap berada dalam jalur reinkarnasi berikutnya.
“Konsistensi berbuat dharma tidak saja menjamin kebahagiaan pada kehidupan mendatang, namun juga ketika manusia hidup saat ini. Manusia yang mempercayai kekuatan dharma akan konsisten berbuat dharma, hingga akhirnya konsistensi tersebut akan memberikan arah terbaik bagi kehidupannya saat ini,” bebernya.
Dengan kata lain, kehidupan yang bahagia dan sejahtera lahir batin dapat dinikmati saat manusia menjalani karma skalanya saat ini. Maka dharma adalah aspek karma yang nantinya berdampak pada kebahagiaan abadi manusia.
Mengingat, perbuatan dharma dapat memberikan kebahagiaan pada kehidupan saat ini maupun di masa mendatang. Bahkan kondisi universal dari dunia ini akan bergantung pada realisasi dharma yang dimainkan oleh setiap insan manusia.
Mari “berlomba” melaksanakan dharma agar nantinya kebahagiaan dapat dinikmati baik saat ini maupun ketika menjelma kembali untuk memperbaiki karma.
Editor : Nyoman Suarna