BALI EXPRESS – Digunakan sebagai sarana untuk upacara kematian umat Hindu di Bali, baik ngaben ataupun penguburan jenazah, proses pembuatan tirta pengentas oleh sulinggih cukup panjang.
Sesuai tradisi Hindu di Bali, ada beberapa sarana penting sebagai bahan pembuatan tirta pengentas, seperti dua periuk yang diiisi dengan dasa aksara, toya anyar (air bersih), ambengan (daun ilalang), don dapdap, padang lepas, jijih, ulangtaga, wewalungan (kayu cendana), mirah, pripih emas, pripih slaka (perak), pripih tembaga serta bahan tambahan lainnya.
Proses pembuatan tirta pengentas dilakukan oleh seorang sulinggih.
Ada beberapa tahapan yang dilakukan. Pertama sang sulinggih membersihkan diri secara sekala dan niskala dengan menurunkan Dewi Gangga yang disebut ngarga.
Setelah selesai membersihkan diri, dilanjutkan dengan ngili atman, berupa menuntun sang atman ke dalam diri.
Dilanjutkan dengan dagdi karana yakni pembakaran terhadap sesuatu yang tidak suci dalam diri
Pademi api rahasia yaitu proses mengempaskan segala kotoran. Amerthi karana yaitu mengucurkan tirta amerta dalam diri.
Siwa karana merupakan bentuk sujud kepada alam. Udhakanjali yaitu mewujudkan Dewa Siwa dalam diri. Nuntun Sanghyang Saptakara Atma yaitu menurunkan Sang Hyang Siwa.
Ngastawa tirtha yaitu menurunkan Dewi Gangga dengan mengggunakan mantra Gangga.
Setelah tahap pertama selesai, kemudian dilanjutkan dengan tahap kedua yaitu sang Sulinggih akan memulai dengan membersihkan segala sarana yang digunakan membuat tirta pengentas.
Usai membersihkan segala sarana dengan mantra, periuk diisi dengan air.
Jika sarana untuk tirta pengentas sudah siap dan bersih secara skala dan niskala, sang sulinggih melaksanakan pangurip terhadap sarana tirta pengentas.
Rangkaian akhir dalam membuat tirtha pengentas adalah melakukan mudra oleh sang sulinggih.
Di sinilah sulinggih memiliki peranan penting dalam membuat tirta pengentas karena yang berhak membuat tirta pengentas hanya sulinggih.
“Tirta pengentas merupakan salah satu sarana paling penting dalam upacara ngaben karena digunakan untuk membebaskan sang atman dari segala material yang mengikat,” jelas Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga.
Editor : Nyoman Suarna