BALI EXPRESS - Konsistensi di jalan dharma diharapkan menjadi budaya hidup setiap manusia Hindu. Hindu adalah agama kasih, yang menjadikan dharma sebagai aspek normatif untuk mewujudkan berbagai hal ke arah kebaikan.
Kondisi ini menyebabkan Hindu selalu menggaungkan dharma.
Hindu mencatutkan segala tujuan umat agar sesuai dengan landasan dharma.
Bahkan, Hindu menyediakan evoria religius agar umat selalu ingat dan merasa bersemangat untuk menjalani laku dharma.
Bergerak di jalan dharma merupakan tindakan berkarma baik.
Keberhasilan seseorang melaksanakan dharma, menandakan terealisasinya perbuatan kebaikan.
Setiap orang yang konsisten melaksanakan perbuatan dharma, maka akan memiliki “investasi karma baik” untuk menentukan arah hidup selanjutnya.
Secara tidak langsung hal ini memberikan sebuah gambaran bahwa, ketika manusia konsisten berbuat baik maka sejatinya telah terjadi realisasi perbuatan dharma itu sendiri.
Hal tersebut diungkapkan oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, I Made Danu Tirta.
Dia menyebutkan individu yang bergerak di jalan dharma memiliki karakter tersendiri.
Di sisi lain, individu itu sendiri juga memberikan manfaat tersendiri ketika teguh di jalan dharma.
Dikutif dari buku Sarasamuscaya terbitan Ditjen Bimas Hindu, Sloka 25 kitab tersebut menyebutkan:
“Hana pwa wwang tan linggar apagĕh buddhinya, ar tūtakĕn kadamĕlaning dharmasādhana, ya ikang wwang bhāgyamanta ling sang paṇḍita, tan kalarākĕna dening kadang mitranya, yadyan mānācakāna apana-pana mangatītajiwīta tuwī.”
Terjemahannya :
Adalah orang yang tidak goyah dan berpendirian kokoh, yang mengikuti dan berpegang pada jalan dharma. Orang seperti itu memiliki sifat bahagia, dan tidak akan mengakibatkan kaum kerabatnya dan handai taulannya bersedih hati, walaupun ia mengembara dan mengemis untuk menyambung hidupnya, kata para ilmuwan.
“Kitab Sarasamuscaya Sloka 25 di atas menegaskan bahwa orang yang teguh di jalan dharma memiliki karakter tidak goyah atau konsisten. Hal ini sangat beralasan, mengingat konteks tuguh akan dapat terwujud apabila seseorang memiliki konsistensi diri yang baik,” jelas Danu.
Segala hal akan berekstensi dengan baik, apabila tumbuh melalui konsistensi pelaku atau penggeraknya (manusia). Begitu juga halnya ketika berbuat dharma, maka akan banyak tantangan atau godaan bagi manusia agar lebih memilih laku adharma.
Tantangan ini akan dapat dilalui, apabila manusia kuat memegang janji diri untuk tetap melaju di jalan dharma.
“Orang yang teguh di jalan dharma akan bermanfaat sebagai pemantik kebahagiaan secara universal. Kebahagiaan tidak hanya diterima oleh pelaku dharma, namun juga mampu dirasakan oleh lingkungan sosial di sekitarnya,” bebernya.
Membumikan perbuatan dharma dalam kehidupan sehari-hari akan melahirkan kedamaian. Kedamaian yang terbentuk tentunya tidak hanya melahirkan kenyamanan diri secara individual, namun berpotensi mendatangkan vibrasi positif bagi lingkungan sekitarnya.
Terlebih lagi, apabila perbuatan dharma yang dilakukan oleh seorang mampu memberikan inspirasi bagi orang lain untuk ikut serta melaksanakan perbuatan dharma.
“Oleh sebab itu, mari tingkatkan kesadaran diri untuk membentuk konsistensi internal berbuat dharma. Lakukan tindakan persuasif, agar orang lain tergerak melakukan tindakan dharma secara bersama," paparnya.
"Dengan demikian, dharma akan menjadi gaung utama bagi kehidupan manusia Hindu dan secara realistis mewujudkan Hindu sebagai agama berkedamaian atau kaya dengan kebahagiaan universal,” pungkas Danu Tirta.
Editor : Nyoman Suarna