BALI EXPRESS – Setiap orang tua berharap anaknya tumbuh menjadi suputra, yaitu orang yang cerdas, pintar, berkarakter dan berguna.
Tentunya hal ini tidak terlepas dari pola asuh orang tua, di samping lingkungan sekitarnya.
Penyuluh Agama Hindu, Made Marjana menerangkan, sejumlah kitab kuno sebagai sumber ajaran Hindu banyak mengulas rahasia mengasuh anak agar suputra.
Di antaranya adalah kitab Nitisastra yang merupakan rujukan utama umat Hindu, selain Kitab Veda.
Kitab Nitisastra mengajarkan banyak hal tentang cara mengasuh anak agar kelak bisa menjadi anak suputra.
Nitisastra Sloka 3.18 menyebutkan: “Laalayet panca varsani, dasa varsani taadyet, praapte to sodase varse, putram mitravadaacaret. “
Artinya :
Asuhlah anak dengan memanjakannya sampai berumur lima tahun. Berikanlah hukuman (maksudnya pendidikan disiplin) selama sepuluh tahun berikutnya. Kalau ia sudah dewasa (maksudnya sejak remaja) didiklah dia sebagai teman.
Sedangkan dalam literatur Hindu yang dimuat di lontar Semara Reka dan Angastya Prana, disebutkan, untuk mengasuh anak agar menjadi seorang yang suputra, terlebih dahulu orangtualah yang harus mengubah dirinya menjadi orangtua yang baik.
Hal itu dilakukan sejak upacara pernikahan yang merupakan tanda bahwa pasangan yang menikah telah disucikan.
“Ibaratnya ketika menanam benih, maka benih dan ladang harus dibersihkan dan disucikan terlebih dahulu untuk mendapat hasil yang baik,” kata Marjana memberi contoh.
Ketika si wanita mengandung, maka ia dan suaminya sesungguhnya sedang beryoga, yakni mengekang dan menghindari segala sesuatu yang tidak baik serta pembenahan pola pikir.
Wanita hamil juga diharuskan terhindar dari perasaan yang kuat, misalnya terlalu marah, terlalu sedih, atau terlalu bergembira.
Bagi sang suami, masa-masa ngidam istrinya merupakan sebuah ujian. Saat itu si calon bayi sedang menguji keteguhan sang calon ayah untuk membuktikan bahwa dia adalah seorang yang pantas dan bertanggung jawab untuk dijadikan orangtua.
Jika sampai ada calon ayah yang mengabaikan istri pada saat hamil, maka akan lahir seorang anak yang berani kepada orangtua.
Pada lontar Semara Reka dan Angastya Prana juga disebutkan, saat anak memasuki usia remaja, orangtua harus menerapkan ajaran Catur Naya Sandhi, yaitu sama, beda, dhana, dan danda.
Artinya, kapan orangtua harus berposisi sama dan sejajar dengan anak (sama).
"Kapan harus memposisikan diri berbeda dengan anak yaitu sebagai seorang guru dan pendidik sekaligus pengawas (beda), kapan harus memberikan hadiah kepada anak sebagai motivasi bagi si anak (dhana) dan kapan saatnya memberikan hukuman ( danda)," jelasnya.
Editor : Nyoman Suarna