BALI EXPRESS - Perbuatan baik seperti kebajikan tidak akan habis-habisnya dijadikan pembahasan dalam sastra Hindu.
Manusia sebagai makhluk utama, diharapkan mengetengahkan perilaku kebajikan sebagai hasil dari keberhasilan olah pikir yang jernih.
Berbuat atau berperilaku kebajikan, hendaknya dilaksanakan tanpa keraguan, tulus, serta ditujukan untuk menciptakan kedamaian bagi diri sendiri, terlebih lingkungan sosial dari manusia.
Seperti diungkapkan oleh Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta, "Kebajikan tidak hanya diperlukan saat ini, namun telah menjadi dambaan utama sejak manusia ada di dunia ini. Tidak mengherankan apabila aspek pendidikan perilaku yang terdapat dalam susastra Hindu pasti menyentuh tentang kebajikan sebagai perbuatan luhur untuk dilatih oleh setiap insan."
Baca Juga: Gibran Minta Maaf Usai Kena Teguran KPU Pasca Debat Perdana
Meski demikian, selalu ada pandangan apatis ketika membicarakan perbuatan kebajikan. Sisi ego dan pola pikir yang didominasi oleh nikmat duniawi melalui jalur non kebajikan, dinilai masih menjadi jalan terbaik menikmati hidup menjadi manusia.
Sering kali konsep rwa binedha dijadikan sebagai alasan untuk tidak berbuat bajik, karena dipandang bahwa di dunia ini wajib ada baik dan buruk, yang akhirnya membenarkan perbuatan buruk sebagai hal wajar untuk dilakukan.
Pandangan seperti ini tentunya bersifat merugikan, utamanya bagi manusia yang lahir ke dunia untuk memperbaiki kualitas karma.
Bahaya dalam berbagai bentuk juga akan mendekat kepada manusia yang tidak menghiraukan pentingnya berbuat kebajikan.
Lainnya halnya hasil dari berbuat kebajikan yang sudah pasti melahirkan hasil terbaik, salah satunya sebagai pelindung diri. Setidaknya hal ini memberikan semangat bagi manusia untuk selalu berbuat bajik, agar nantinya selalu terhindar dari marabahaya.
Baca Juga: KPU Beri Teguruan Gibran Buntut ‘Kompori’ Semangat TKN Saat Debat Perdana
Terkait dengan manfaat berbuat kebajikan sebagai pelindung diri, hal tersebut dijelaskan dalam Kitab Sarasamuccaya Sloka 28.
Dikutip dari buku Kitab Sarasamuscaya terbitan Ditjen Bimas Hindu, dalam Sloka 28 disebutkan:
“Lawan ta waneh, ring hĕlĕt, ring alas, ring pringga, ring laya, salwirning duhkha hetu, ri paprangan kunĕng, tar tĕka juga ikang bhaya, ri sang dharmika, apanikang śubhakarma rumakṣa sira.”
Terjemahannya:
“Serta yang lain, di semak belukar, di hutan, di jurang, di tempat peristirahatan, di segala tempat kesedihan, di medan perang, bahaya itu tidak akan datang pada orang yang selalu berbuat kebajikan karena ia dijaga oleh subhakarma (amal soleh).”
Baca Juga: Tradisi Bali: Uniknya Upacara Piksuji Daha Truna, Tokoh Desa Adat Bantang Ungkap Tujuannya
Menurut Danu, petikan Sloka 28 kitab Sarasamuscaya menegaskan bahwa orang yang teguh berbuat kebajikan akan dilindungi oleh subhakarma (perbuatan baik).
Hal ini memberikan arti bahwa fungsi perlindungan dari kebajikan tidak lahir dari kekuatan supranatural, namun secara murni dilindungi oleh tingkah laku yang baik dari manusia itu sendiri.
Lebih lanjut Danu memaparkan, subhakarma adalah strategi perang dan senjata paling ampuh untuk memberikan perlindungan terhadap diri sendiri.
Perbuatan kebajikan yang dilakukan oleh seseorang akan menghindarkan dirinya dari marabahaya.
Mengingat, tidak ada musuh dan situasi bersifat mengancam yang dihasilan dari perbuatan bajik (subhakarma).
Musuh dan situasi bersifat mengancam keselamatan akan muncul, jika manusia memantiknya dengan perilaku asubhakarma (perilaku tidak baik).
Baca Juga: Lirik Lagu Canggu Karangasem Milik Tika Pagraky ft. Rocktober yang Baru Dirilis
Ketika seseorang berhasil menerapkan subhakarma, maka hanya akan mengundang persahabatan, kerukunan, yang pada tahap akhir akan menjadi penolong bagi pelaku subhakarma itu sendiri.
Indahnya manfaat berbuat kebajikan diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi insan manusia Hindu untuk aktif membudayakan kebajikan.
"Untuk itu, mari laksanakan perbuatan kebajikan sebagai hiasan laku hidup di dunia ini, agar nantinya diri selalu terlindungi ataupun tertolong dari marabahaya," pungkas Danu.
Editor : Nyoman Suarna