Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali Kuno: Kurban Kijang dalam Pemujaan Ida Ratu Patani, Jero Gede Batur Duhuran Ungkap Maknanya

I Putu Mardika • Minggu, 17 Desember 2023 | 16:24 WIB
UPACARA: Kata Jero Gede Batur Duhuran, dalam tradisi Bali kuno, upacara pemujaan kepada Ida Ratu Patani memakai seekor kijang memiliki makna khusus.
UPACARA: Kata Jero Gede Batur Duhuran, dalam tradisi Bali kuno, upacara pemujaan kepada Ida Ratu Patani memakai seekor kijang memiliki makna khusus.

BALI EXPRESS – Upaya menjaga ekosistem hutan dan Danau Batur sudah dilakukan sejak zaman dulu melalui berbagai tradisi kuno.

Salah satunya lewat pemujaan kepada Ida Ratu Patani bersaranakan kurban seekor kijang yang diolah ebat maserotutu, dengan sesaji lainnya.

Sedangkan ke hadapan Ida Ratu di Alas, kurban yang dipersembahkan adalah seekor kijang yang diolah ebat genep, dengan kelengkapan sesaji lainnya.

Dijelaskan Jero Gede Batur Duhuran, upacara pakelem (danu kṛeti) adalah ritual yang secara khusus ditujukan untuk memuliakan danau.

Ritual ini digelar periodik masing-masing setiap 5 tahun sekali, 10 tahun, 30 tahun, dan 100 tahun.

Ritual lima tahunan adalah upacara pakelem biasa, sedangkan setiap 10 tahun disebut panca wali krama, setiap 30 tahun disebut pakelem tribhuwana, sedangkan setiap 100 tahun disebut pakelem candi narmada.

Pakelem secara esensial merupakan momentum membersihkan dan menyucikan danau (mabresihin sagara alit).

Teks Pratekaning Usana Siwa Sasana menegaskan bahwa pelaksanaan upacara tersebut adalah tanggung jawab bersama masyarakat Bali, utamanya oleh sang mawa bumi (pemimpin).

Penggunaan seekor kijang sebagai kurban ketika pelaksanaan upacara pada Sasih Katiga merupakan media pengingat bagi masyarakat Batur untuk melakukan konservasi hutan sebagai ekosistem kijang.

Upacara dipandang sukses apabila panitia penyelenggara berhasil melengkapi sarana penunjangnya, salah satunya kijang.

Ketika hutan rusak, otomatis kijang tidak lagi bisa ditemui secara alami, sehingga masyarakat dianggap telah abai pada ketetapan untuk menjaga hutan.

Jika ini dilanggar, akan mengakibatkan munculnya wabah penyakit, kekeringan, munculnya hama pertanian, hingga terjadi gagal panen, dan kelaparan.

Ritual pakelem menjadi momen untuk memantau kondisi terkini Danau Batur.

Upacara yang digelar diharapkan dapat mengembalikan mutu air danau. Berbagai sarana yang digunakan dalam upacara itu pun berperan sebagai menunjukkan kualitas air, misalnya berbagai jenis ikan dan tumbuhan penunjang banten “sesaji” upacara.

Jika lingkungan danau terjaga, debit dan kualitas air akan baik, maka kehidupan agraris dan bidang kehidupan lainnya akan terjaga pula, demikian pula sebaliknya.

Pratekaning Usana Siwa Sasana menetapkan langkah konservasi yang lebih tegas dan nyata. Menurut teks ini, pemerintah dan berbagai komponen masyarakat diwajibkan ikut berpartisipasi dalam upaya menjaga kualitas air danau.

“Pemerintah sebagai pemegang kebijakan juga wajib mengambil tindakan-tindakan strategis untuk memulihkan danau jika dianggap telah terjadi degradasi baku mutu,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#kuno #pemujaan #bali #Jero Gede Batur Duhuran #kijang #kurban #Ida Ratu Patani #tradisi