Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Hanya Pemangku Laki-laki Boleh Ngibing Tari Joged Bumbung Pingit di Pura Dalem Sasih Panjer, Ini Sejarahnya!

I Putu Mardika • Senin, 18 Desember 2023 | 18:14 WIB
JOGED: Tari Joged Bumbung di Pura Dalem Sasih, Banjar Sasih Desa Adat Panjer, Denpasar Selatan. Para pengibingnya hanya pemangku laki-laki.
JOGED: Tari Joged Bumbung di Pura Dalem Sasih, Banjar Sasih Desa Adat Panjer, Denpasar Selatan. Para pengibingnya hanya pemangku laki-laki.

BALI EXPRESS - Tari joged bumbung pada umumnya menjadi tari pergaulan untuk hiburan. Namun berbeda dengan tari joged bumbung pingit di Pura Dalem Sasih, Banjar Sasih, Desa Adat Panjer, Denpasar Selatan, Bali.

Pemangku Pura Dalem Sasih, Jro Mangku Made Rapog, menjelaskan, sesuai tradisi, tari joged bumbung pingit di pura ini berfungsi sebagai persembahan suci masyarakat Banjar Sasih kepada sesuhunan di Pura Dalem Sasih, Desa Adat Panjer.

Sesuai tradisi, Pujawali tidak akan lengkap jika tidak dipentaskan tarian joged bumbung ini di areal jaba tengah. Sebab, saat tari joged ini dipentaskan, sesuhunan di Pura Dalem Sasih tedun untuk menyaksikan.

Selain itu, masyarakat juga percaya dengan kesakralan tari joged bumbung pingit tersebut.

“Tari joged bumbung pingit ini selalu dipentaskan saat pujawali untuk menghindari hal-hal buruk yang terjadi di Banjar Sasih Desa Adat Panjer,” jelasnya.

Secara historis, tutur Jro Mangku Made Rapog, pada tahun 1920-an terdapat sekaa arja di Banjar Sasih. Namun pada tahun 1950-an, karena anggota sekaa arja tersebut sudah tua dan banyak yang meninggal, maka pakaian dan gelungan (makhota) arja tersebut disimpan.

Lama disimpan, pakaian arja tersebut banyak yang rusak. Hanya gelungan tari tokoh galuh saja yang masih utuh.

Melihat gelungan tersebut masih utuh, masyarakat setempat menjadikannya gelungan tari joged bumbung pingit.

Pada tahun 2008 gelungan tari joged bumbung pingit ini diupacarai. Masyarakat percaya gelungan joged bumbung pingit ini sebagai penyeimbang alam sekala dan niskala, dan juga untuk menjaga hubungan baik antara pawongan dan parahyangan di wilayah wewidangan Banjar Sasih.

Tari joged bumbung pingit ini tidak hanya sebagai pelengkap upacara pada saat piodalan di Pura Dalem Sasih, tetapi juga berfungsi sebagai penolak bala.

Tari joged bumbung pingit ini merupakan tari wali (sakral) yang dipentaskan saat piodalan di Pura Dalem Sasih, Banjar Sasih, Desa Adat Panjer, Denpasar.

Ia menambahkan, tarian ini tidak boleh ditarikan oleh sembarang orang. Tari ini ditarikan oleh seorang penari perempuan yang dipilih berdasarkan pawisik atau pemuwus (ditunjuk).

Tari joged bumbung pingit ini memiliki dua struktur. Yang pertama adalah pepeson atau pengelembar. Setelah itu (kedua) baru dilanjutkan dengan ibing-ibingan.

Pementasan tarian ini diawali dengan tabuh pembuka, berupa tabuh telu. Tabuh ini disebut dengan istilah tabuh tetegak, sebagai isyarat bahwa pertunjukan sudah dimulai.

Pada bagian pepeson atau pengelembar, penari berada di kalangan (area menari) dan bersiap untuk menari. Setelah melalui beberapa gerakan, dilanjutkan dengan bagian kedua berupa ibing-ibingan.

Pada bagian ini penari melakukan gerakan improvisasi dengan membawa kipas dan menyesuaikan dengan pengibing, sehingga penari perlu mempunyai kelincahan gerak tubuh dan gerak mata.

Uniknya, para pengibing tidak boleh kalangan umum, tetapi para pemangku laki-laki di Pura Dalem Sasih, Banjar Sasih Desa Adat Panjer.

“Saat pementasan tari joged bumbung di Pura Dalem Sasih ini yang berhak mengibing hanya pemangku. Karena tarian ini sangat disakralkan. Jadi tidak sembarangan orang mengibing seperti tari joged bumbung pada umumnya,” ungkapnya.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #joged bumbung #pingit #tradisi #panjer #tari #Pura Dalem Sasih