BALI EXPRESS – Desa Adat Legian, Kecamatan Kuta, Badung, Bali memiliki tradisi unik yang disebut tradisi ngintar. Tradisi ini dilaksanakan menjelang Hari Raya Nyepi, tepatnya Hari Kajeng Kliwon.
Tradisi yang diwariskan para pendahulu di Desa Adat Legian ini hingga saat ini masih bertahan.
Tradisi ngintar dilaksanakan selama tiga kali, sebelum perayaan melasti serangkian hari raya Nyepi.
Jro Mangku I Ketut Jejer (Jro Mangku Lingsir Pura Agung) menyebutkan, tradisi ngintar bertujuan nangluk merana atau menolak bala agar masyarakat dan desa terhindar dari bencana, wabah penyakit.
Bukan tanpa alasan, karena Desa Adat Legian merupakan desa yang terletak di penepi siring atau desa pesisir pantai, segala wabah dan penyakit datang dari laut.
Menurutnya, hal ini membuat masyarakat mudah terkena wabah. Maka dari itu perlu adanya penolak bala.
“Tentu harus ada perlakuan khusus untuk membentengi Desa Adat Legian dari berbagai wabah itu. Para leluhur kami mewarsikan tradisi ngintar untuk menolak bala,” ungkapnya.
Pelaksanaan tradisi ini diawali dengan berkumpul di Pura Agung Desa Adat Legian.
Lalu pelawatan sesuhunan berupa barong dan rangda berjalan ke arah catus pata utara diiringi tetabuhan gambelan baleganjur.
Tiba di catus pata, pelawatan barong dan rangda menari.
Sebelum prosesi ini dilaksanakan di catus pata, diawali dengan mepengarah, yaitu memberitahukan kepada warga adat tentang pelaksanaan tradisi ngintar.
Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan sarana banten pejati. Selain pejati, ada juga banten pejati penyamblehan.
Banten pejati penyamblehan ini hampir sama dengan banten pejati pada umumnya, namun dilengkapi dengan nasi tumpeng poleng, dupa atau geni lelintingan, serta ayam hitam.
Setelah itu dilanjutkan dengan prosesi menghias pelawatan Ida Ratu Ayu dan Rangda Tiga. Hal ini merupakan proses persiapan yang terakhir dan utama.
“Ida Pelawatan Ratu Ayu lan Rangda Tiga dihias dengan bunga jepun (kamboja), cempaka, serta bunga kembang sepatu (pucuk),” paparnya.
Editor : Nyoman Suarna