BALI EXPRESS – Pura Dalem Dukun Sakti yang terletak di Desa Adat Tuban, Kecamatan Kuta, Badung, Bali tidak hanya dikunjungi umat Hindu, tetapi juga umat Islam, terutama yang hendak sembahyang ke pelinggih Tuan Aji Madura.
Bagi umat non Hindu yang hendak sembahyang, disarankan meminta izin pemangku yang ada di Pura Dalem Dukun Sakti agar tahu tata tertib dan runtutan persembahyangan, di samping sesaji yang harus dibawa.
Biasanya, untuk sembahyang di tempat itu, umat membawa pejati, canang dan dupa bagi yang beragama Hindu. Namun umat non Hindu biasanya menyesuaikan dengan kepercayaannya masing-masing.
Keragaman tatacara bersembahyangan ini menjadi bukti bahwa tempat suci ini sebagai penguat akulturasi budaya antara umat melalui pelinggih Tuan Aji Madura.
Jro Mangku I Nyoman Mulia mengatakan, saat sembahyang di Pura Dalem Dukun Sakti para pemedek tidak diperbolehkan masuk ke area pura menggunakan alas kaki (sandal), seperti halnya masuk ke dalam masjid.
Terutama pada saat Hari Raya Idul Fitri, dimana banyak umat Islam yang ikut menenuaikan ibadah di pelinggih Tuan Aji Madura.
Pada saat hari raya Idul Fitri biasanya pemangku yang bertugas di pura tersebut membuat sesajen berupa nasi tumpeng, dilengkapi dengan minuman, buah-buahan, dan bunga.
Hal ini juga sesuai dengan keyakinan umat Hindu mengenai sarana persembahyangan di pelinggih Tuan Aji Madura.
“Jadi secara tidak langsung ini mencerminkan moderasi beragama. Saling menghargai, toleran, dan ini bisa ditemukan di Pura Dalem Dukun Sakti di Desa Adat Tuban,” ungkapnya.
Pujawali di Pura Dalem Dukun Sakti dilaksanakan pada Purnama Sasih Katiga.
Pura Dalem Dukun Sakti pada awalnya dibangun secara bertahap. Tahap pertama dari arah utara menuju selatan dan selanjutnya diikuti oleh bangunan lainya.
Terdapat beberapa pelinggih (tugu) yang ada di area Pura Dalem Dukun Sakti yakni Pelinggih Ida Bhatara Puncak Mahameru, Gedong yang merupakan Pelinggih Ratu Gede Dalem Ped, Padmacapah yang merupakan Pelinggih Pramanca Mahajenarantaka.
Selain itu, ada pula Padma Kembar yang merupakan Pelinggih Dalem Blambangan, Tugu Capah yang merupakan Pelinggih Jero Gede, Gedong Dalem Majapahit, Tajuk Pengaruman dan Pelinggih Perahu.
Semua pelinggih yang terdapat di Pura Dalem Dukun Sakti terbuat dari pasir malela.
Pura Dalem Dukun Sakti dikenal sebagai salah satu tempat untuk nunas tamba dan mampu memberikan kelancaran dalam segala aktivitas kesenian agar lebih bertaksu (berkharisma).
Hal ini ditunjukkan dengan pemedek yang nangkil untuk memohon kesembuhan.
Penggunaan nama Dalem ini karena sebagian besar Ida Bhatara yang berstana di pura ini yang menggunakan gelar Dalem.
Sedangkan kata dukun digunakan karena banyak masyarakat yang mendapatkan kesembuhan karena doanya dikabulkan di pura tersebut.
Jro Mangku di Pura Dalem Dukun Sakti juga tidak menampik adanya masyarakat yang ingin menyebutkan bahwa pura ini dengan nama Pura Dalem Dukun.
Ia menambahkan, salah satu keunikan dari Pura Dalem Dukun Sakti adalah keberadaan Pelinggih Tuan Aji Madura.
Konon, Pelinggih Tuan Aji Madura dibuat karena Beliau memberikan pawisik kepada Jro Mangku untuk meminta dibuatkan bangunan suci/pelinggih dengan atap yang berbentuk kubah Masjid.
Bangunan dari Pelinggih Tuan Aji Madura masih menggunakan arsitektur pelinggih Bali pada umumnya, tetapi hanya atapnya seperti kubah.
Editor : Nyoman Suarna