Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Unik di Bali Utara: Dibangun Zaman Megalitikum, Pelinggih Pura Sari Berbentuk Batu Besar, Kelian Ungkap Begini

I Putu Mardika • Sabtu, 23 Desember 2023 | 16:30 WIB
PURA SARI: Pelinggih Pura Sari di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng berbentuk batu besar. Konon dibangun pada zaman megalitikum.
PURA SARI: Pelinggih Pura Sari di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng berbentuk batu besar. Konon dibangun pada zaman megalitikum.

BALI EXPRESS - Pura Sari yang terletak di kawasan Bali Utara, tepatnya di Desa Adat Selat Pandan Banten, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng tergolong unik.

Pasalnya, pura ini tidak memiliki pelinggih, melainkan bebaturan yang menyerupai batu besar.

Jika dilihat dari strukturnya, pura ini terdiri dari 3 (tiga) halaman, yaitu: jaba sisi (sisi terluar) yang merupakan halaman parkir kendaraan yang berisi pelinggih pakendel.

Di jaba tengah (sisi tengah) terdapat Bale Wantilan dan Bale Pegongan. Ketiga adalah jeroan (halaman utama) terdapat bangunan suci berbentuk bebaturan (pelinggih berbentuk batu).

Keberadaan Pura Sari berkaitan erat dengan sejarah Desa Selat.

Kelian Desa Selat Pandan Banten, Putu Mariasa menjelaskan, Pura Sari memiliki keunikan karena bentuk pelinggihnya (tempat pemujaan) berupa bebaturan (bangunan pemujaan berbentuk batu besar).

Berbeda dengan bentuk pelinggih pada umumnya yang terdapat di pura-pura lainnya, yaitu berbentuk padma, gedong, bale atau meru. Pemujaan bebaturan berupa batu besar yang masih otentik.

Diceritakan Mariasa, awalnya Pura Sari hanya merupakan tumpukan batu besar yang berada di kawasan hutan desa.

Karena masyarakat dari berbagai wilayah ingin melakukan persembahyangan, maka pengempon pura yang merupakan masyarakat Adat Desa Selat membangun tembok pembatas (penyengker) sebagai upaya menjaga kesucian Pura Sari.

Beberapa bangunan suci di Pura Sari tidak muncul begitu saja. Berdasarkan informasi secara turun-menurun yang diterima pemangku Pura Sari Desa Selat, awal keberadaan Pura Sari tidak seperti saat ini yang menggunakan struktur Tri Mandala.

Seiring keinginan umat untuk melakukan pemujaan, dibuatlah pembatas berupa tembok di setiap bagian halaman kawasan suci Pura Sari yang akhirnya dibagi menjadi tiga bagian (Tri Mandala).

“Bebaturan di Pura Sari diyakini sebagai bukti sejarah dan cikal bakal keberadaan Desa Selat. Bebaturan ini dijadikan titik pusat pelaksanaan aktivitas keagamaan di Desa Selat,” ungkapnya.

Diyakini, Pura Sari dibangun pada masa megalitikum karena pelinggihnya masih berupa tumpukan batu (bebaturan). Selain itu, di sekitar kawasan tersebut juga ditemukan sebuah sarkofagus.

“Secara turun-temurun belum ada yang berani mengganti pelinggih di Pura Sari yang berbentuk bebaturan. Beberapa tahun lalu hanya dibangun penyengker atau pembatas bangunan agar kawasan suci pura lebih jelas,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#unik #bali utara #megalitikum #pelinggih #pura #pura sari #batu besar