BALI EXPRESS – Sesuai tradisi yang sudah berlangsung, upacara Pasupati pada hari Tumpek Landep di Pura Pengaruman dilakukan pada siang hari, tepatnya pukul 12.00 (tajeg surya).
Dijelaskan Bendesa Adat Buleleng Jro Nyoman Sutrisna, ada sejumlah tahapan yang dilaksanakan pada puncak karya Pasupati.
Sesudah Jro Mangku Gede melakukan pemujaan di pawedan, dilanjutkan dengan Jro Mangku Gede ngarga tirta pangelukatan dan menjalankan upacara pembersihan.
Pangelukatan banten oleh Jro Mangku Gede dimulai dari banten yang munggah di bale paruman.
Ada pula banten yang munggah di bale pengenem, di arep Jro Mangku, di gedong dan banten yang dipersembahkan atau dibawa umat.
Sesi utama dari upacara Pasupati di Pura Pengaruman adalah mempersembahkan banten upacara Pasupati yang merupakan sarana untuk memohonkan kepada Sang Hyang Pasupati.
Tujuannya agar benda-benda yang akan disucikan/disakralkan berupa keris dan senjata lainnya memperoleh tuah yang diharapkan.
Tahapan pertama adalah tahap prayascita (penyucian).
Tujuan prayascita ini adalah untuk menghilangkan atau membersihkan kotoran secara sekala ataupun niskala yang melekat pada keris dan senjata lainnya.
Setelah itu, dilakukan proses Pasupati yang bertujuan untuk memberikan kekuatan sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa pada keris tersebut.
Setelah upacara Pasupati selesai dilaksanakan, seluruh warga melaksanakan persembahyangan bersama.
Usai seluruh rangkaian upacara di Pura Pengaruman, warga membawa kembali keris atau senjatanya ke rumah masing-masing untuk distanakan di tempat suci.
Editor : Nyoman Suarna