Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Penari Andir di Desa Tista Kerambitan tak Boleh Sembarang Orang, Ini Proses Kaderisasinya

I Putu Mardika • Jumat, 5 Januari 2024 | 18:11 WIB
RANGDA: Melibatkan rangda sesungsungan saat pentas, para penari Andir tak boleh sembarang orang. Sesuai tradisi di desa setempat, ada tahapan untuk kaderisasi penari.
RANGDA: Melibatkan rangda sesungsungan saat pentas, para penari Andir tak boleh sembarang orang. Sesuai tradisi di desa setempat, ada tahapan untuk kaderisasi penari.

BALI EXPRESS – Para penari Andir tidak boleh sembarang orang, tetapi dipilih sesuai tradisi yang berlaku di Desa Tista, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Bali.

I Nyoman Widana selaku tokoh masyarakat Desa Tista menjelaskan, dalam upaya kaderisasi, untuk membawakan tiap-tiap tokoh dalam lakon yang digunakan, dipilih minimal dua orang penari.

Misalnya, untuk tokoh condong dipilih dua orang. Demikian pula untuk pemilihan penari Andir, tiap-tiap lakon disiapkan dua pasang atau empat orang.

Tiap-tiap lakon ditarikan oleh dua orang penari Andir dan satu orang penari condong, ditambah satu orang penari garuda (untuk lakon lasem) dan satu orang penari rangda untuk lakon prabangsa.

Pemilihan penari dilakukan berdasarkan seleksi pada waktu latihan.

Setelah penari-penari tersebut melewati tahap latihan, dilakukan upacara pemelaspasan (upacara untuk pementasan perdananya). Penari-penari yang telah melewati proses pemelaspasan, diberikan kesempatan pentas secara bergilir.

Bila penari yang satu sudah dapat pentas di salah satu pura,  maka untuk pementasan di pura yang lain diberikan pada penari lainnya

“Penari yang terpilih dan sudah melalui proses penyucian, bisa menari sampai usia remaja, sambil menunggu kaderisasi berikutnya,” kata Nyoman Widana.

Jika penari remaja berhalangan karena datang bulan, mereka dibersihkan terlebih dahulu melalui upacara pembersihan semacam prayascita.

Hal ini bisa dilakukan apabila tidak ada penari lain yang dapat menggantikan perannya.

Di dalam pertunjukan, tari Andir melibatkan rangda sungsungan.

Rangda ini dipercaya sebagai penghubung atau mediator niskala antara warga masyarakat dan betara-betari.

“Oleh karena itu, adegan yang selalu menyertai penampilan rangda dalam tari Andir adalah onying, ngurek atau narat (menusuk diri dengan keris),” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #sembarang orang #andir #penari #tradisi #kaderisasi #Desa Tista #kerambitan