Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Tak Banyak yang Tahu, Ini Kisah Unik Tari Baris Keraras saat Aci Tulak Punggul di Pura Taman Ayun

I Putu Mardika • Kamis, 18 Januari 2024 | 17:19 WIB
BARIS KERARAS: Pementasan tari Baris Keraras  saat Aci Tulak Punggul di Pura Taman Ayun pada Anggarkasih Medangsia.
BARIS KERARAS: Pementasan tari Baris Keraras saat Aci Tulak Punggul di Pura Taman Ayun pada Anggarkasih Medangsia.

BALI EXPRESS – Sesuai tradisi, setiap enam bulan sekali tepatnya Anggarakasih Medangsia, krama Desa Adat Mengwi, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali melaksanakan Aci Tulak Punggul.

Tradisi ini bertalian erat untuk menetralisir energi negatif. Dalam ritual ini juga dipentaskan tari Baris Keraras.

Seperti diketahui, tari Baris Keraras ditarikan oleh seorang pemuda laki-laki dengan atribut yang berbeda dari tari Baris pada umumnya.

Tari Baris Keraras menggunakan pakaian poleng, awir keraras dan membawa senjata berupa keris yang terbuat dari adonan sate.

Keunikan lainnya, tari Baris Keraras menggunakan hiasan daging babi sebagai gelungan, dan urutan babi sebagai kalung dan gelang kana.

Tokoh masyarakat Desa Adat Mengwi, I Nyoman Sukada menjelaskan, pementasan tari Baris Keraras memiliki hubungan erat dengan tradisi Tulak Punggul.

Menurut penuturan dari para pendahulunya, papar Sukada, tradisi Tulak Punggul memiliki korelasi dengan Telaga Taman Ayun.

Konon, cerita itu bermula dari empehan atau bendungan yang terdapat di barat daya telaga Taman Ayun yang sering roboh. Kondisi itu diyakini karena ada hal-hal tertentu yang menyebabkan bendungan tergerus air.

Akibat bendungan terus tergerus, para petani tidak dapat mengairi sawah sehingga tidak bisa memanen padinya.

Atas kondisi itu, Raja Kelima dari Kerajaan Mengwi, I Gusti Agung Made Agung melakukan tapa yoga di Pura Pucak Mangu.

“Di sanalah beliau mendapatkan pawisik, agar empangan (bendungan) dibendung dengan upacara Tulak Tanggul atau Tulak Punggul yang bertujuan untuk menetralisir energi negatif,” jelasnya.

Konon empangan itu harus didasari oleh wong. Kata wong ini banyak mendapat penafsiran. Maka wong itu diartikan wong-wongan atau simbolis orang-orangan, yang diyakini mampu menjaga kekuatan bendungan.

“Apabila bendungan sudah kokoh, maka ada upacara setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Anggarakasih Medangsia, dilakukan upacara pecaruan yang berisi nasi wong-wongan dengan kelengkapan lainnya,” sebutnya.

Ia menambahkan, setelah caru nasi wong-wongan dengan kelengkapan lainnya, maka dilakukan suatu upacara tari-tarian sebagai lambang magis, yakni Baris Keraras.

Editor : Nyoman Suarna
#baris keraras #bali #unik #aci tulak punggul #pura #tradisi #tari #taman ayun