BALI EXPRESS - Dalam kehidupan masyarakat Bali, tuak, arak dan brem tidak hanya dikenal sebagai minuman keras, tetapi juga menjadi bagian integral dari sarana ritual Umat Hindu dan pengobatan tradisional.
Penggunaan tuak, arak dan brem tidak hanya terbatas pada aspek keagamaan, tetapi juga terkait erat dengan tetabuhan, yakni persembahan kepada Bhuta Kala, entitas rohaniah dalam kepercayaan Hindu Bali.
Sejak dulu jenis-jenis minuman keras seperti arak, berem, tuak, dan darah dijadikan sarana tetabuhan sebagai pelengkap segehan, ritual yang lazim di Bali.
Dalam kepercayaan masyarakat Hindu, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan dan senang mabuk-mabukan.
Dalam rangka menjaga keharmonisan dan menghindari gangguan dari roh-roh tersebut, sesuai tradisi, masyarakat Bali memberikan persembahan berupa minuman keras yang memabukkan, di antaranya tuak, arak dan brem.
Nyoman Ariyoga, Dosen Pendidikan Agama Hindu, menjelaskan bahwa minuman seperti arak, berem, tuak, dan darah dianggap memabukkan dan dijadikan sebagai persembahan kepada Bhuta Kala.
"Tuak, arak dan brem termasuk juga darah binatang merupakan sarana persembahan kepada bhuta kala," ujarnya.
Ariyoga menekankan pentingnya memberikan persembahan ini untuk membuat Bhuta Kala merasa puas dan tidak mengganggu manusia.
Dalam konteks keagamaan, minuman seperti tuak, arak dan brem dimanfaatkan sebagai pelengkap dalam upacara macaru.
Arak dan tuak diidentifikasi sebagai simbol dari aksara suci "Ah-kara," sedangkan brem sebagai simbol dari aksara suci "Ang-kara."
Lebih lanjut, Ariyoga menjelaskan bahwa penggunaan tuak, arak dan brem sebagai "Sajeng Tabuh" dalam upacara bhuta yadnya, memiliki makna untuk menjaga keharmonisan dan keseimbangan alam semesta.
Baca Juga: Dua Pemain Asing Bali United Dipastikan Absen Laga Internasional di Vietnam
Dalam konteks ini, arak atau tuak diidentifikasi dengan karakter maskulin atau simbol purusa, sementara brem dikaitkan dengan sifat feminin atau simbol pradana.
Penggunaan Sajeng Tabuh diupayakan sebagai upah kepada bhuta kala untuk menjaga keselarasan alam semesta, termasuk para penjaga alam semesta yang dianggap memiliki peran penting dalam menjaga harmoni dunia.
Editor : Nyoman Suarna