Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tak Ada Dasar Umat Hindu di Bali Gunakan Busana Hitam saat Ngaben: Simak Kitab Bhagawadgita, II.11 dan 27

Putu Agus Adegrantika • Sabtu, 20 Januari 2024 | 18:31 WIB
HITAM: Menjadi sebuah trend umat Hindu menggunakan pakaian hitam saat melayat atau pelaksanaan upacara ngaben. Simak penjelasan Kitab Bhagavadgita, II.11 dan 27.
HITAM: Menjadi sebuah trend umat Hindu menggunakan pakaian hitam saat melayat atau pelaksanaan upacara ngaben. Simak penjelasan Kitab Bhagavadgita, II.11 dan 27.

BALI EXPRESS – Belakangan sangat lumrah setiap melayat ke rumah duka, umat Hindu khususnya di Bali menggunakan busana  serba hitam. Termasuk juga saat melaksanakan upacara ngaben.

Terkait busana hitam yang belakangan ini menjadi ciri dalam upacara kematian terutama saat upacara ngaben, menurut pandangan Hindu, bukanlah merupakan pakaian seragam yang wajib atau harus digunakan.

Sebab soal warna busana terkait kegiatan upacara yadnya, memang tidak disebutkan secara gamblang dalam berbagai literatur agama Hindu.

Soal kelengkapan dan komposisi busana, sesuai tradisi Bali, tentunya disesuaikan dengan tingkatan atau pepayasan, mulai dari payas alit, madya, dan agung.

Soal pemakaian busana hitam dalam upacara kematian, khususnya umat Hindu, hanyalah trend atau kecenderungan umum mengikuti perkembangan zaman.

Menurut Penyuluh Agama Hindu Putu Agus Adegrantika yang mengutif buku lima cara beryadnya yang ditulis oleh I Gusti Ketut Widana, menyebut bahwa warna hitam sudah lumrah dihubungkan dengan warna kedukaan atau kesedihan.

Sementara dalam pandangan Hindu, warna hitam bukanlah pertanda duka, sedih atau isyarat kematian.

Bagi Hindu, warna hitam justru berarti kehidupan dan kesuburan.

Hal ini sebagai cermin dari Dewa Wisnu sebagai salah satu manifestasi Tuhan dalam prabhawanya sebagai pemelihara yang memberikan kehidupan dan kesuburan.

Dalam pengir-ider Dewa Wisnu disimbolkan dengan warna hitam yang berada di arah utara.

Lebih dari itu, seperti halnya kehidupan, kematian dalam pandangan Hindu bukanlah sesuatu yang harus disesali, lalu larut dalam duka dan rasa sedih berkepanjangan.

Kehidupan dan kematian merupakan rta atau hukum alam, yang mau tidak mau harus diterima sebagai kehendak Tuhan.

Hal ini dicontohkan dalam kitab suci  Bhagawadgita, II.11 dan 27, saat Sri Krishna menasehati Arjuna yang ragu maju ke medan laga Bharatayudha karena berperang melawan saudara-saudaranya dari Korawa.

Saat itu Krishna berucap, “Engkau berduka kepada mereka yang tak patut engkau sedihi, namun engkau bicara tentang kata-kata kebijaksanaan. Orang bijaksana tidak akan bersedih baik bagi yang hidup maupun yang mati.”

“Sesungguhnya kematian adalah pasti. Demikian pula setiap yang mati, pasti akan terlahir  kembali. Hal ini tak terelakkan. Karena itu, tidak ada alasan engkau merasa menyesal (berduka/bersedih)”.

Berdasarkan kitab tersebut, jelaslah bahwa kematian sesungguhnya merupakan peristiwa biasa.

Sejalan dengan pandangan tersebut, maka sebenarnya pertanda duka dengan mengenakan busana hitam dalam kematian, tidaklah berdasar.

Apa yang menjadi gejala penyeragaman berbusana hitam saat upacara  kematian dalam Hindu, tidak lebih dari kecenderungan mengikuti mode.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #busana #ngaben #hitam #hindu #Bhagawadgita