Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Ogoh-ogoh saat Nyepi Hindu tak Ada Dalam Weda, Ternyata Diilhami Ajaran Ini

Putu Agus Adegrantika • Senin, 22 Januari 2024 | 22:32 WIB
OGOH-OGOH: Ogoh-ogoh saat perayaan Nyepi umat Hindu bukanlah bagian esensial dari Weda. Dia baru muncul pada era tahun 80-an.
OGOH-OGOH: Ogoh-ogoh saat perayaan Nyepi umat Hindu bukanlah bagian esensial dari Weda. Dia baru muncul pada era tahun 80-an.

BALI EXPRESS - Dalam beberapa waktu terakhir, perdebatan dan pertentangan muncul terkait asal-usul ogoh-ogoh, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari serangkaian upacara Nyepi.

Pertanyaan pun muncul, apakah ogoh-ogoh memang harus menjadi bagian integral dari tradisi perayaan upacara Nyepi, khususnya saat pengerupukan?

Dalam konteks agama Hindu, kreativitas budaya sangat didorong untuk berkembang.

Semua elemen yang terkait dengan aspek bhakti, terutama oleh kalangan Apara Bhakti yang berpegang pada ajaran karma dan Bhakti Marga, selalu berupaya untuk mengkonkretkan objek-objek pemujaan dan persembahan (bhuta kala).

Objek-objek konkret yang melambangkan pemujaan dan persembahan ini termasuk pura (kahyangan), upakara banten, arca, pratima, pralingga, tapakan, dan tidak terkecuali ogoh-ogoh.

Ini adalah manifestasi konkret yang menggambarkan aspek kultural-lokal yang diperkaya oleh ritual Hindu.

Hal ini dijelaskan dalam buku "Lima Cara Beryadnya" yang ditulis I Gusti Ketut Widana.

Bukti bahwa ini bersifat kultural lokal adalah perbandingannya dengan praktik keagamaan Hindu di India yang tidak persis sama dengan praktik yang ada di Bali atau Indonesia pada umumnya.

Sementara ogoh-ogoh sendiri baru muncul pada era tahun 80-an dan bukanlah bagian esensial dari Weda atau ritual Bhuta Yadnya.

Namun, kehadirannya dapat diterima karena diilhami oleh ajaran karma dan bhakti marga.

Penting untuk dicatat bahwa ogoh-ogoh harus sesuai dengan perwujudan bhuta kala yang dijelaskan dalam sastra.

Oleh karena itu, ogoh-ogoh yang mengambil bentuk sesuai pesanan sponsor, seperti mobil atau sepeda motor, menjadi kontroversial.

Ogoh-ogoh yang bersifat kultural ini memiliki dimensi ritual, sebagai perwujudan bhuta kala yang harus dipasupati.

Setelah diarak dalam pengerupukan, ogoh-ogoh seharusnya dipralina atau dikembalikan ke wujud materi, dengan tujuan mengembalikan harmoni unsur-unsur kekuatan alam.

JAGA PEMILU: Posko gotong royong yang didirikan DPC PDI Perjuangan untuk mengawal pelaksanaan Pemilu 2024. (PDI UNTUK JPRM)
JAGA PEMILU: Posko gotong royong yang didirikan DPC PDI Perjuangan untuk mengawal pelaksanaan Pemilu 2024. (PDI UNTUK JPRM)
Editor : Nyoman Suarna
#bali #nyepi #diilhami #ogoh-ogoh #hindu #tradisi #Weda #ajaran