BALI EXPRESS - Prosesi upacara Melasti Mendak Hujan di Desa Pecatu diwarnai berbagai tradisi Bali yang sangat unik.
Selesai menghaturkan segehaan para pemangku dan Jro Tapakan menarikan tari kincang-kincung.
Tarian kincang-kincung merupakan tarian sakral dalam tradisi melasti mendak hujan yang dipersembahkan kepada Ida Bhatara yang sudah menghadiri tradisi melasti ini.
Bendesa Adat Pecatu Made Sumerta mengatakan, Tarian Kincang Kincung juga sering disebut tarian kegembiraan, karena acara sudah berjalan dengan baik.
Usai menarikan tarian Kincang Kincung, akan dilanjutkan dengan prosesi mebiasa atau ngurek (narat) dengan menggunakan keris.
Keris yang digunakan untuk ngurek oleh para penari yang kesurupan memiliki kekuatan magis.
Tarian ngurek dalam tradisi Melasti Mendak Hujan sebagai bukti bahwa Tuhan melalui sinar sucinya telah hadir untuk memberikan kesejahteraan kepada warga Desa Pecatu.
Tradisi ngurek juga sebagai wujud syukur (kegembiraan) masyarakat Desa Pecatu.
Usai prosesi ngurek tuntas, dilanjutkan dengan acara penutupan atau penglebaran.
Para sutri atau permaas serta tapakan diberikan banten sajeng pengelebar.
Menariknya, upacara Melasti Mendak Hujan acapkali diisi aci tabuh rah di Pura Dalem, perempatan catus pata, dan perempatan Durga.
Aci tabuh rah ini dilaksanakan sampai akhirnya masyarakat Desa Adat Pecatu melaksanakan kembali Melasti Kasanga.
Bila setelah upacara Melasti Mendak Hujan tidak kunjung turun hujan maka akan dilakukan prosesi atau upacara yang disebut ngetis
“Prajuru wajib ngetis di Pura Dalem Selonding. Kami akan memohon secara khusyuk di sana,” tutup Made Sumerta.
Editor : Nyoman Suarna