BALI EXPRESS - Tidak ada yang bisa melarikan diri dari realitas bahwa usia dan penyakit selalu beriringan.
Dari kecil hingga tua, manusia terus-menerus berhadapan dengan potensi penyakit.
Penyakit bukan sekadar bagian dari kehidupan, ia melintasi setiap fase, menjadi jalur yang tak terhindarkan dalam perjalanan hidup manusia.
Kematian sering kali dihubungkan dengan penyakit, dianggap sebagai akhir yang alamiah dari perjalanan manusia.
Berbeda dengan kematian yang disebabkan oleh kecelakaan atau bunuh diri, kematian karena penyakit lebih mudah diterima oleh keluarga yang ditinggalkan.
Penyuluh Agama Hindu I Made Danu Tirta, menjelaskan, kehadiran penyakit seharusnya menjadi pemicu bagi manusia untuk hidup dengan perilaku yang lebih baik.
"Sang Aji Sastra memberikan petunjuk penting tentang tindakan yang harus dilakukan sebelum penyakit merajalela," katanya.
Petikan dari Kitab Sarasamuscaya Sloka 36 mengungkapkan esensi penting ini:
"Kematian selalu didahului oleh penyakit. Penyakit melemahkan tubuh dan mempersingkat usia. Jadi, janganlah lengah. Lakukanlah kebajikan yang akan membawa kita ke alam baka."
Danu menjelaskan bahwa penyakit tidak hanya melemahkan fisik, tetapi juga membawa implikasi spiritual.
"Penyakit mengganggu fungsi tubuh, membuat kita semakin rentan terhadap kematian. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit adalah tanda bahwa kematian mendekat," tambahnya.
Menurut perspektif Hindu, lanjut Danu, kepemilikan materi tidak membawa kekayaan ke alam baka. Yang penting adalah investasi karma yang dilakukan selama hidup.
Perbuatan baik akan membawa manusia ke alam surga, sementara perbuatan buruk akan menuju neraka.
Danu menekankan bahwa kebajikan harus ditekankan dalam setiap fase kehidupan.
"Karma baik adalah kunci menuju kehidupan setelah kematian yang lebih baik atau moksa," tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna