BALI EXPRESS - Tumpek Wariga kembali dirayakan oleh umat Hindu di Bali pada Sabtu (3/2). Ritual Tumpek Wariga yang dilaksanakan tepat saat Saniscara Wuku Wariga ini memiliki beragam nama yang sarat akan makna.
Hari suci Tumpek Bubuh dirayakan setiap enam bulan sekali (berdasarkan pehitungan kalender Bali) yaitu pada Saniscara Kliwon Wariga.
Tumpek Bubuh juga dikenal dengan nama Tumpek Uduh, Tumpek Pengatag, Tumpek Pengarah, Tumpek Wariga dan Tumpek Bubuh.
Sarati banten, Jro Ketut Utara mengatakan, nama Tumpek Wariga disebut Tumpek Bubuh karena media yang digunakan adalah bubuh (bubur).
Sedangkan kata uduh dimaknai memanggil, pengarah diterjemahkan memberikan atau menyebarluaskan informasi, dan pengatag diterjemahkan mengundang.
Tumpek Wariga juga menjadi penanda jika hari Raya Galungan tinggal 25 hari lagi.
Pada saat ini, umat melakukan ritual pemujaan terhadap penguasa tumbuh-tumbuhan melalui media tumbuh-tumbuhan itu sendiri.
Di dalam Lontar Sundarigama, Tuhan dalam wujud penguasa tumbuh-tumbuhan bergelar Sang Hyang Sangkara.
“Dalam pengideran Dewata Nawasanga, Sang Hyang Sangkara menempati arah Barat Laut dengan warna hijau yang identik dengan warna tumbuh-tumbuhan,” kata pria asal Kubutambahan ini.
Momentum Tumpek Wariga menjadi hari suci untuk memohon agar tumbuh-tumbuhan dapat tumbuh subur, berdaun lebat, berbunga, berumbi, dan berbuah sehingga menjadi berkah bagi alam dan sumber makanan bagi makhluk hidup lainnya.
“Kita berdoa kepada Dewa Sangkara agar tumbuh-tumbuhan diberikan keselamatan dan kesuburan. Upacara ini memiliki makna tersendiri karena untuk mendoakan tumbuhan yang pada saat itu sedang berbunga,” paparnya.
Baca Juga: Densus 88 Antiteror Kembali Tangkap Terduga Teroris di Boyolali, Begini Penjelasan Kapolres
Pelaksanaan Tumpek Wariga pasti berbeda di setiap desa yang ada di Bali. Selain karena desa mawecara, tentunya juga dipengaruhi oleh desa, kala, dan patra.
Editor : Nyoman Suarna