BALI EXPRESS – Sesuai tradisi Hindu di Bali, pada hari Tumpek Bubuh umat melakukan ritual pemujaan terhadap penguasa tumbuh-tumbuhan melalui media tumbuh-tumbuhan itu sendiri.
Ritual pemujaan terhadap tumbuh-tumbuhan memiliki tatacara tersendiri, sesuai dresta atau desa kala patra masing-masing.
Namun secara umum pelaksanaan hari Tumpek Wariga biasa dimulai dengan melakukan persembahyangan di merajan rumah masing-masing.
Setelah itu dilanjutkan dengan nunas tirta yang akan dipercikkan kepada tumbuh-tumbuhan yang akan diatagin.
Proses selanjutnya adalah natabin pepohonan yang dipilih sebagai wakil dari pohon yang lainnya.
Di pohon tersebut digantungkan gantung-gantung yang ada kojongnya. Kojong tersebut berisi bubur sumsum sebagai lambang kemakmuran.
Setelah itu ditatabin dengan banten penyeneng, lalu diperciki tirta yang berasal dari merajan sanggah di rumah.
Saat menghaturkan benten tersebut disertai memukul batang pohon sebanyak 3 kali diiringi mantra yang diucapkan dalam bahasa Bali atau disebut me-Saa.
Adapun mantranya berbunyi: “Kaki-kaki, dadong jumah, tiyang mepengarah buin selae dina galungan apang mebuah nged....nged...nged.....”.
“Ini memiliki dua makna yaitu untuk memberikan ruang atau area untuk memasukkan bubur (kesuburan) ke dalam tubuh-tumbuhan melalui batang dan untuk membangunkan tumbuhan,” paparnya.
Perayaan tumpek wariga tidak hanya terkait pemberian sesajen kepada alam terutama tumbuhan, melainkan berupa tindakan nyata pelestarian alam.
Orang Bali mempertahankan kondisi alam sekitar salah satunya dengan tradisi nyawen.
Terdapat aturan saat satu pohon ditebang, maka diwajibkan untuk menancabkan ranting pada pangkal pohon tersebut sebagai sawen.
Kegiatan tersebut secara implisit merupakan sebuah seruan untuk menjaga sumber daya tumbuhan dengan melaksanakan reboisasi atau penanaman kembali.
“Inilah simbol pelestarian terhadap tumbuhan. Karena jelas konsep ekologinya. Jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita. Tumbuhan menyuplai oksigen, menjaga air, dan melindungi kita dari bencana alam longsor. Tentu spirit Tri Hita Karana begitu nyata diimplementasikan dalam Tumpek Wariga ini,” katanya.
Editor : Nyoman Suarna