BALI EXPRESS – Sesuai tradisi, sejak baru lahir ke dunia, manusia Hindu di Bali khususnya, disertai dengan upacara.
Upacara untuk bayi terdiri dari beberapa tahapan. Namun yang paling hakiki dari upacara tersebut adalah Tigang Sasih.
Upacara Tigang Sasih atau Nelu Bulanin dilakukan ketika bayi berumur umur tiga bulan menurut perhitungan kalender Bali atau berumur seratus lima hari setelah bayi lahir.
Upacara Nelu Bulanin ini bisa dilaksanakan di merajan (tempat suci keluarga) atau di rumah pinandita.
Ritual Nelu Bulanin dianggap bagian terpenting dalam hidup manusia Hindu karena hanya dilaksanakan sekali seumur hidup.
Berbeda dengan upacara ngotonin yang dilaksanakan ketika bayi berumur enam bulan, bisa diulang lagi untuk beberapa kali setiap enam bulan berikutnya.
Dosen Upakara, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, M.Pd menjelaskan, upacara Nelu Bulanin ini hanya sekali dilaksanakan, sebagai upacara perpisahan dengan empat saudara batin.
Adapun keempat saudara tersebut yakni ari-ari disebut (Sang Anta), tali pusar (Sang Preta), darah (Sang Kala), air ketuban (Sang Dengen) yang menyertai bayi pada saat dilahirkan.
Upacara yang juga disebut bajang colong ini juga bertujuan untuk mebyakala atau menghilangkan cuntaka ayah dan ibu bayi karena melahirkan.
“Nyama bajang dan kanda pat diundang untuk dihaturi sesajen sebagai ucapan terima kasih karena telah merawat bayi sejak dalam kandungan sampai lahir dengan selamat,” katanya.
secara umum pelaksanaan upacara Nelu Bulanin dipimpin seorang pemangku sonteng.
Upacara diawali dengan memohon tirta panglukatan, pembersihan, pabyekaonan, prayascita, lalu tirta tersebut dipercikkan di banten.
Setelah itu pemangku menghaturkan upakara (banten) kepada Bhatara Guru di pamerajan.
Editor : Nyoman Suarna