BALI EXPRESS - Wanita dalam konsep ajaran Hindu menempati posisi yang sangat penting. Terlebih ketika ia memulai perannya sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anak penerus dharma.
Seorang ibu menempati posisi yang sangat dihormati karena menjalankan peran penting dalam pembentukan keluarga yang berbahagia.
Bahkan dalam kitab suci Yajur Weda XIV.21 menempatkan seorang ibu sebagai perintis kecemerlangan, kemakmuran, kesuburan pertanian dan kesejahteraan, ketika ia dimuliakan dan dibahagiakan dalam sebuah keluarga.
Kitab suci Manawa Dharmasastra menyebutkan, jika seorang wanita (ibu) tidak dimuliakan dan mengalami kesedihan, maka di tempat itu pula seluruh yadnya menjadi tidak bermanfaat dan mendatangkan pahala baik.
Keluarga tersebut akan mengalami kehancuran dan penderitaan.
Ibu dalam konteks ajaran Hindu bukan saja menunjuk pada wanita yang melahirkan, terdapat tujuh Ibu yang lazim disebut dengan “Sapta Mata”.
Dalam kitab suci Niti Sastra 39, disebutkan:
Adau mata guroh patni,
brahmani raja patnika,
dhenur dhatri tatha prthivi,
saptaita matarah smrtah.
Artinya:
Ketujuh ini dikenal sebagai ibu, yaitu; ibu kandung, istri guru kerohanian, istri brahmana, istri raja, sapi, perawat dan bumi.
Dari kitab Niti Sastra, dapat diidentifikasi tujuh ibu yang selayaknya oleh umat Hindu dimuliakan, antara lain:
1. Mata : Ibu yang melahirkan
2. Guru patni : Istri dari guru suci/kerohanian
3. Brahmani : Istri seorang brahmana
4. Rajapatni : Istri Raja
5. Denuh : Sapi
6. Dhatri : Perawat atau yang merawat
7. Prthiwi : bumi
“Mata atau ibu yang melahirkan menempati posisi pertama yang selayaknya dimuliakan oleh umat Hindu, karena perjuangannya melahirkan generasi di dunia,” papar Ida Ayu Trisna.
Pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan tentu saja tidak bisa diukur dengan berbagai materi yang ada di dunia. Sehingga selayaknya dimuliakan dan dibahagiakan.
Guru patni atau istri dari guru kerohanian juga selayaknya dianggap sebagai ibu bagi umat Hindu.
Penghormatan pada guru suci terwakilkan pula dengan menghormati dan memuliakan istri beliau.
Pengabdian dan pelayanan beliau pada seorang guru kerohanian, sehingga seorang guru bisa menjalankan pengabdiannya secara baik.
“Brahmani atau istri seorang brahmana juga dianggap sebagai seorang ibu oleh umat Hindu, karena tugas-tugas kebrahmanaan tidak akan berjalan tanpa pengabdian istri beliau,” paparnya.
Rajapatni berarti istri raja atau bisa pula didefinisikan istri pimpinan negara. Istri pemimpin juga harus dimuliakan karena sebagai ibu dari seluruh masyarakat/rakyatnya.
Denuh atau sapi dianggap ibu dalam ajaran Hindu, karena binatang yang disucikan ini telah memberi kehidupan bagi umat manusia.
Sementara Dhatri atau seorang perawat adalah orang yang membantu proses persalinan atau orang yang telah merawat dan membesarkan seseorang.
Dhatri juga dianggap sebagai seorang ibu karena tugasnya merawat dan menjaga seseorang.
Sedangkan Prthivi atau bumi juga dianggap sebagai ibu yang layak dimuliakan dan dijaga karena sebagai tempat hidup manusia.
“Demikian tujuh ibu dalam ajaran Hindu yang selayaknya dijaga dan dihormati. Menempatkan beliau pada posisi yang mulia akan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat Hindu,” pungkas Ida Ayu Trisna.
Editor : Nyoman Suarna