BALI EXPRESS - Mengupas kain tenun Gringsing yang dihasilkam warga Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali seolah tiada habisnya.
Selain memiliki daya pikat yang luar biasa, rupanya ada mitos dan makna filosofis setiap motif kain tenun.
Keberadaan motif-motif kain gringsing di Desa Tenganan, Bali ini erat kaitannya dengan mitos Dewa Indra.
Perbekel Desa Tenganan, Ketut Sudiastika menjelaskan, mitos pembuatan motif-motif kain tenun gringsing, konon berawal dari perintah Dewa Indra.
Mitosnya berawal saat Dewa Indra melihat keindahan alam yang begitu menakjubkan ketika jalan-jalan pada malam hari.
Pada saat itu Dewa Indra melihat keindahan sinar bulan, bintang, metior, awan, dan binatang malam.
Apa yang dilihat Dewa Indra disampaikan kepada pengerajin melalui wangsit untuk dijadikan motif-motif kain tenun gringsing.
“Filosofi motif-motif tenun gringsing tidak terlepas dari mitos tersebut sebagai pertanda yang menggambarkan sebuah kedekatan hubungan manusia dengan Dewa Indra,” kata Sudiastika.
Pancaran sinar bulan, bintang, metior adalah filosofi penggambaran sebuah pencerahan pikiran manusia yang gelap agar menjadi lebih terang.
Begitu pula motif-motif awan yang menyembul di antara cahaya terang tersebut, terangnya, dimaknai sebagai pikiran manusia yang terbebaskan dari kebodohan.
Kedua filosofis motif-motif tenun tersebut bermakna kehidupan manusia perlu perjuangan agar bisa hidup lebih baik.
Motif-motif tenun gringsing dimitoskan pertanda penghormatan kepada Dewa Indra sebagai dewa perang, dan penjaga keselamatan masyarakat.
“Hal inilah yang kemudian menjadi landasan spiritual, konsep, ide, gagasan dalam penciptaan motif tenun,” kata Sudiastika.
Editor : Nyoman Suarna