BALI EXPRESS - Setiap manusia memburu kebahagiaan hidup. Kebahagiaan hidup dipandang sebagai puncak kesenangan, kegembiraan, dan keceriaan yang dapat ditemui dalam kehidupan manusia.
Segala strategi diupayakan oleh manusia untuk mencapai tujuan hidup. Strategi tersebut dapat berupa usaha atau kerja untuk mencapai titik kebahagiaan yang diinginkan.
Di sisi lain, tujuan hidup banyak direalisasikan melalui upaya menikmati.
Sebab, tidak semua orang mendapatkan kebahagiaan diri dengan cara mencapai target dengan kerja.
Namun ada juga yang merealisasikan melalui upaya menikmati, baik menikmati keindahan alam maupun kegemaran yang dimilikinya.
Jadi dapat dikatakan bahwa upaya untuk mendapatkan kebahagiaan selalu diusahakan oleh manusia dengan berbagai cara.
Terkait tujuan hidup, penyuluh agama Hindu, I Made Danu Tirta menerangkan, mencapai kebahagiaan merupakan hak setiap manusia.
Hak asasi manusia salah satunya menjurus kepada kebebasan untuk menggapai segala hal yang menjadi kesenangan atau kebahagian.
Tidak ada kelompok yang mampu membatasi pencapaian kebahagiaan seseorang.
Tidak ada individu yang berhak untuk membatasi pencapaian kebahagiaan sebagai salah satu dambaan hidup dari individu lainnya.
Semasih seorang menempuh kebahagiaan dengan cara yang benar, sesuai dengan norma hukum, maka tidak ada unsur sosial lain untuk menghalanginya.
Sehingga, pencapaian kebahagiaan pasti akan ditemui oleh seseorang sebagai wujud pemenuhan atas hak dan apabila dilakukan dengan cara yang benar.
Namun banyak manusia yang belum paham tentang jalan mencapai kebahagiaan hidup bagi diri sendiri.
Manusia hanya memandang kebahagiaan hidup telah tercapai apabila mampu menghimpun kekayaan secara materi.
Kondisi ini mendorong manusia untuk bekerja kerjas serta menempuh berbagai cara agar mampu mencapai kebahagiaan diri dalam bentuk memiliki kekayaan atau kepemilikan secara materi.
Tidak jarang, usaha untuk memenuhi hasrat memiliki kekayaan materi sebagai wujud pencapaian kebahagiaan diri, dilakukan dengan cara negatif.
Banyak strategi negatif yang melanggar hukum dan bertolak belakang dengan ajaran dharma untuk mewujudkan kebahagiaan dalam bentuk kepemilikan materi.
Hal ini menandakan bahwa usaha memenuhi kebahagiaan masih diselimuti oleh nafsu duniawi dan cenderung tidak menghasilkan kebahagiaan sejati dalam diri.
Terkait dengan usaha mencapai kebahagiaan diri, sastra Hindu banyak memberikan pilihan jalan. Salah satunya tertuang dalam kitab Sarasamuscaya Sloka 40.
Sloka Kitab Sarasamuscaya yang diterbitkan Ditjen Bimas Hindu menyebutkan:
“Nghing dharma kĕta sakṣat hayu, sākṣāt wibhawa ngaranya, nghing lĕbaning manah, kĕlānta ring panas tis, kĕta prasiddha tamba, prāyaścitta, pamadem lara ngranya, nghing saṁyagjñāna tuturta, ajinta, wruh ta ring tattwa paramārtha inak ambek ngaranya, nghing ahingsā si tanpamati-mati, si tan hana kakrodha, byaktaning sukha ngaranya.”
Terjemahannya:
Hanya dharma yang menunjukkan jalan kebajikan dan merupakan jalan kewibawaan.
Hanya ketenteraman rasa hati yang tahan terhadap kesusahan dan kenyamanan, yang bisa dijadikan obat penyembuh, pemurni, dan pemusnah nestapa.
Hanya kebenaran pengetahuan dan wawasanmu, yang menyebabkanmu paham tentang kebenaran hakiki, pasti bahagia hatimu.
Tidak membunuh dan tiadanya amarah itulah penyebab kebahagiaan.
Baca Juga: Tragis! Hindari Truk Parkir, Gadis 18 Tahun Tewas Tabrak Bus di Jimbaran
Petikan Sarasamuccaya Sloka 40 di atas memberikan petunjuk mengenai tiga jalan yang menjadi pilihan manusia dalam mewujudkan kebahagiaan diri.
Tiga jalan tersebut bahkan tidak hanya terpaku pada materi, namun tertuju pada manajemen diri sendiri.
Kondisi ini menandakan bahwa, kebahagiaan diri yang sejati dalam hidup manusia dapat terwujud secara perdana dengan jalan mengatur fluktuasi hidup diri sendiri.
Berikut tiga jalan yang dapat menjadi pilihan manusia dalam mencapai kebahagiaan diri.
Pertama, manusia hendaknya berpegang pada ajaran dharma. Ajaran dharma menampung tuntunan mengenai cara mengisi hidup dengan dasar kebenaran.
Menjalani hidup di dunia ini wajib didasarkan atas kebenaran, baik kebenaran dalam konteks hukum, norma, etika dan sebagainya.
Manusia yang mampu menjalani hidup dengan jalan berpegang pada kebenaran, akan menemui keamanan dan kedamaian hidup.
Hal ini secara langsung melahirkan kenyamanan hidup yang juga berkedudukan sebagai kebahagiaan hakiki.
Kedua, manusia patut melatih ketenteraman hati melalui kesabaran dan rasa syukur.
Hati manusia tidak akan pernah merasa tenteram apabila dalam hatinya tidak diselimuti oleh rasa sabar dan syukur. Perjalanan hidup manusia pasti menemui berbagai tantangan pahit.
Apabila tantangan tersebut disikapi dengan amarah, maka hanya akan melahirkan kekalutan diri dan masalah yang tidak terselesaikan.
Baca Juga: Sungguh Terlalu! Rekam dan Sebar Video Bugil Mantan Kekasih, Buruh Asal Buleleng Ditangkap Polisi
Kondisi ini menuntut manusia harus mampu melatih rasa sabar dalam menghadapi masalah. Sebab dengan kesabaran, manusia akan mampu menemui ketenangan dan tepat sasaran menyelesaikan masalah.
Dengan demikian, kata Danu, masalah hidup akan terselesaikan dengan baik dan kebahagiaan pun menjadi muaranya.
Ketiga, manusia hendaknya mengisi diri dengan pengetahuan dan wawasan.
Kebodohan hanya akan menjadikan diri “gelap” dan tanpa arah dalam menjalani kehidupan.
“Oleh sebab itu, perlu adanya wawasan atau pengetahuan yang nantinya menjadi pelita dalam mengarungi kehidupan ini,” imbuhnya.
Setiap rencana hidup mampu terwujud apabila didasari oleh kejernihan berpikir. Kejernihan berpikir, akan terwujud melalui pengetahuan dan wawasan itu sendiri.
Ketika manusia memiliki pengetahuan, maka akan dengan mudah merumuskan strategi mencapai kebahagiaan hidup. Dengan demikian, pengetahuan dan wawasan juga berakhir pada kebahagiaan.
“Jadi, dapat disimpulkan bahwa tiga jalan tersebut mengedepankan keselarasan hati, pikiran, dan tindakan untuk mencapai ketanangan diri,” jelasnya.
Hati, pikiran, dan tindakan merupakan tiga hal yang saling bertautan dalam diri manusia. Ketiganya saling mempengaruhi, salah satunya dalam mewujudkan kebahagiaan.
“Oleh sebab itu, umat Hindu hendaknya konsisten melatih tiga hal tersebut dalam diri, sehingga kebahagiaan sejati dapat ditemui dalam hidup ini,” pungkasnya. ***
Editor : Nyoman Suarna