Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sloka 42 Sarasamuscaya: Jangan Abaikan Nasihat Orang Tua, Ini Alasannya Dalam Ajaran Hindu

Putu Agus Adegrantika • Senin, 12 Februari 2024 | 16:43 WIB
NASIHAT: Ilustrasi isi Sloka 42 kitab Sarasamuscaya yang menekankan tentang pentingnya nasihat orang tua menurut Hindu.
NASIHAT: Ilustrasi isi Sloka 42 kitab Sarasamuscaya yang menekankan tentang pentingnya nasihat orang tua menurut Hindu.

BALI EXPRESS - Orang tua merupakan sosok yang sangat dihormati dalam keluarga. Secara biologis, orang tua menjadi sumber regenerasi keluarga.

Setiap orang yang ada dalam anggota keluarga, pada nantinya akan memiliki kesempatan dan potensi untuk menjadi orang tua dan dihormati pula oleh generasi atau keturunannya.

Sebagaimana penyebutannya (orang tua), maka orang tua berkedudukan sebagai individu yang dituakan serta dengan posisi senioritas tertinggi bagi keturunannya dalam sebuah keluarga.

Senioritasnya tidak hanya dilandasi oleh umur, tetapi juga rekaman pengalaman hidup yang telah dilalui oleh orang tua itu sendiri. 

Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta, menerangkan, banyak budaya timur yang menekankan setiap generasi untuk selalu patuh dan hormat kepada orang tua.

Penghormatan terhadap orang tua berlaku pula dalam kehidupan beragama Hindu di Indonesia pada umumnya, dan Bali pada khususnya. 

Tradisi sungkeman bagi umat Hindu misalnya, menjadi wujud besarnya budaya penghormatan terhadap orang tua.  

Hindu juga memandang orang tua sebagai “dewa sekala”.

Dewa memiliki kesepadanan arti dengan Tuhan, sedangkan sekala memiliki makna dunia nyata.

“Jadi secara sederhana, konteks dewa sekala dapat diartikan sebagai Tuhan di dunia nyata," jelas Danu.

Kedudukan orang tua dalam keluarga sejatinya merupakan Tuhan yang paling nyata di dunia ini.

Sebuah pasangan yang telah sah diikat oleh hukum pernikahan, akan disebut sebagai orang tua. Mereka mampu menciptakan dan melahirkan manusia baru yang disebut anak. 

Sementara, anak tidak akan mungkin mampu melahirkan orang tua.

Dengan demikian, orang tua merupakan bagian kecil dari keagungan Tuhan yang mampu menciptakan generasi-generasi baru di dunia ini. 

Kedudukan orang tua dalam keluarga berposisi sebagai edukator (pendidik). Hal ini bertautan dengan posisi sebuah keluarga sebagai ruang pendidikan informal bagi generasi.

Setiap orang tua tentunya mengharapkan tumbuhnya anak atau generasi dengan karakter luhur, sehingga mendorong orang tua itu sendiri untuk selalu memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya. 

Sebuah keluarga akan tidak terarah karakter generasinya, apabila orang tua tidak menerapkan fungsi edukasinya dengan baik.

Wujud edukasi yang diberikan oleh orang tua dalam keluarga adalah nasihat, bahkan teguran-teguran bersifat tegas.

Semua itu merupakan bagian dari fungsi edukasi dari orang tua dalam keluarga.

Harapannya, nasihat maupun teguran yang diberikan oleh orang tua dalam keluarga mampu menstimulus anggota keluarga untuk berubah ke arah lebih baik.

Keluarga mendambakan adanya kemajuan baik dari sisi karakter, pendidikan formal, maupun karir. 

Setiap nasihat yang diberikan oleh orang tua tentunya bermuatan harapan terbaik.

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa, sebagian besar generasi yang patuh terhadap nasihat kebaikan orang tua, akan menemui arah hidup lebih baik.

Sehingga dapat dikatakan bahwa nasihat orang tua menjadi penentu arah hidup keturunannya. 

Namun, sikap apatis anak terhadap nasihat orang tua masih terjadi. Kondisi ini semakin memburuk, di tengah pengaruh negatif modernisasi bagi aspek sosial anak-anak.

Anak-anak lebih banyak memandang bahwa, kedekatan dengan orang tua cukup direalisasikan dengan aktif tinggal dalam satu rumah dengan orang tua. 

"Anak-anak saat ini lebih mendambakan kebebasan diri tanpa adanya pengaruh atau kekangan dari orang tua."

"Begitu juga halnya dengan nasihat, maka nasihat lingkungan sosial seperti pertemanan lebih penting posisinya dibandingkan dengan nasihat orang tua dalam keluarga," tegas Danu.

Hindu memandang bahwa penghormatan dan penerimaan terhadap nasihat orang tua merupakan hal penting untuk dibiasakan. Konteks nasihat dalam hal ini tentunya adalah nasihat bersifat kebaikan. 

Lalu mengapa nasihat orang tua dipandang penting? Berikut jawaban Kitab Sarsasmuscaya Sloka 42 terbitan Ditjen Bimas Hindu: 

“Matangnya bapa, haywa juga masampai ring wwang matuha, lot atanyāminta winarah, ring kadi sira ta pwa kita, apanikang dharma ngaranya, paḍa lawan ulā, ri kapwa tan kinaniścayan larinira, dadyan saka lor, dadyan saka kidul, marikang ulā.”

Terjemahannya: 

Maksudku (Bapa), janganlah durhaka kepada orang tua. Banyaklah bertanya dan minta nasihat. Seperti itulah hendaknya engkau, sebab yang bernama dharma, sama dengan ular yang tidak bisa ditebak dengan pasti jalannya. Bisa datang dari utara, datang dari selatan dan berhentilah si ular.

 Baca Juga: KMP Agung Samudra XVIII Kandas di Perairan Selat Bali

Kitab Sarasamuscya Sloka 42 di atas memberikan penekanan bahwa nasihat merupakan salah satu sumber ajaran dharma. Nasihat juga menjadi sumber informasi bagi diri sendiri. 

Melalui kebiasaan mendengarkan sebuah nasihat, maka diri ini sesungguhnya telah mendapatkan pengetahuan.

Pengetahuan yang didapatkan melalui nasihat dapat dikrititisi terlebih dahulu, hingga akhirnya dapat difungsikan secara realitis dalam hidup ini. 

Dengan demikian, nasihat yang diberikan oleh individu lain terhadap diri ini sejatinya mampu menjadi sumber kecerahan (pengetahuan) hidup yang merupakan bagian dari esensi dharma itu sendiri.

Dharma, dalam hal ini, tidak saja tertuju secara langsung pada perkataan maupun tindakan kebaikan, namun juga termasuk pengetahuan mendalam yang dimiliki oleh manusia melalui perolehan nasihat tersebut.  

Nasihat orang tua tentunya termasuk sebagai sumber ajaran dharma. Orang tua dalam keluarga selalu memberikan nasihat atau pesan-pesan kebaikan pada generasi penerusnya.

Nasihat ini sejatinya warisan tidak terhingga yang akan diterima dan dijadikan bekal hidup oleh generasi selanjutnya. 

"Meskipun setiap orang tua dalam keluarga memiliki berbagai karakter, namun sudah tentu memiliki butiran-butiran nasihat kecil bersifat kebaikan yang diharapkan mampu menuntun generasinya ke arah kebaikan," tegas Danu.

Kondisi ini memberikan maksud bahwa untaian dharma itu sendiri akan terkonstruksi dalam nasihat edukatif yang diberikan oleh orang tua.

Dengan demikian, sumber ajaran dharma tidak saja terpaku pada kitab suci Hindu, tetapi juga dapat diperoleh dari kemauan mendengarkan nasihat orang tua.  

Sumber ajaran dharma menjadi lebih dekat dan fleksibel dengan adanya nasihat orang tua.

Seseorang tidak harus selalu berkutat untuk membongkar makna teks Hindu yang berkaitan dengan ajaran dharma. 

Di sisi lain, petunjuk ajaran dharma mudah direalisasikan, mengingat nasihat orang tua bertautan dengan harapan terhadap anak dan kepekaannya terhadap tantangan zaman yang akan menyerati harapan itu.

Ketika anak atau generasi aktif mendekatkan diri serta menerima petua dari orang tua, maka di sanalah terjadi pemanfaatan sumber ajaran dharma secara maksimal. 

Kedudukan nasihat orang tua sebagai sumber ajaran dharma berpotensi melahirkan insan Hindu dengan ideologi dharma sejati.

Orang tua sebagai sumber ajaran dharma terdekat dengan setiap insan Hindu, sehingga memungkinkan adanya pendidikan nilai-nilai ajaran dharma secara intensif. 

Hal ini akan semakin mudah terwujud, apabila terjadi timbal balik berupa kesediaan generasi untuk menjalani hidupnya tanpa terlepas dari nasihat-nasihat orang tua. 

Jadi, dapat disimpulkan bahwa mendengarkan petuah kebenaran dari orang tua, tokoh, maupun orang lain secara umum merupakan jalur pengabdian diri untuk meningkatkan kadar pengetahuan dharma dalam diri.  

Nasihat atau petuah akan memberikan kesegaran pengatahuan dalam diri, sehingga mampu meningkatkan sikap kritis sebagai wujud selsktif dari ajaran kebenaran atau dharma itu sendiri. 

"Mari tumbuhkan kebiasaan untuk mau mendengar petuah atau nasihat dari orang tua maupun orang lain, agar pengetahuan dharma dapar terealisasi dengan baik melalui perkataan maupun perbuatan," tutup Danu. *** 

Editor : Nyoman Suarna
#sloka 42 #Sarasamuscaya #orang tua #nasihat #hindu