SINGARAJA, BALI EXPRESS – Ketika melintas di Jalan Pulau Bali, Kelurahan Kampung Baru, Singaraja, Bali akan terlihat rumah yang cukup besar.
Luasnya sekitar 10 are lebih. Lokasinya bersebelahan dengan SDN 7 Kampung Baru.
Rumah dengan arsitektur Cina Selatan itu berhiaskan lampion untuk perayaan Imlek 2575.
Saat pintu utama dibuka, terlihat altar besar dan beberapa ornament merah terpasang di setiap sudut rumah.
Rumah ini dikenal luas oleh masyarakat Singaraja sebagai Rumah Besar. Pemiliknya konon seorang pejabat zaman kolonial Belanda bernama Kapitan Lie Ing Tjie.
Gelar Kapitan Cina yang melekat padanya menandakan pengaruh dan otoritasnya di kalangan masyarakat Tionghoa pada masa itu.
Lie Ing Tjie yang berasal dari Eng-chhun, kini dikenal sebagai Yongchun di Provinsi Fujian, Tiongkok, membawa sejarah panjang keturunan Tionghoa di Singaraja Bali.
Generasi keempat Kapitan Lie Ing Tjie, Ketut Jaya Sugita (Lie Tjen Yung), berkisah bahwa kakek buyutnya (Kong Co) tiba di Buleleng dengan mendaratkan kapalnya di kawasan Pura Pabean, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.
“Saat tiba, dia tidak langsung tinggal di Buleleng. Sempat tinggal di Kembangsari, Kintamani, Bangli, baru akhirnya menetap di sini,” kata Sugita saat dijumpai Sabtu (10/2) siang.
Kedatangan Lie Ing Tjie ke Singaraja konon pada saat Dinasti Qing berkuasa di Tiongkok.
Saat tiba di Indonesia melalui jalur laut di Bali Utara, ia masih mengenakan gaya rambut tradisional Tiongkok.
Lie masih memiliki potongan rambut dengan model bianzi (toucang), model rambut setengah botak dan berkepang panjang yang diberlakukan di Tiongkok dari 1644 sampai dengan 1911.
Namun tahun pasti kedatangan Kapitan Lie di Bali masih menyisakan misteri.
“Dulu di depan rumah ini adalah sawah. Luas sekali dan itu masih tanah milik kakek buyut saya itu. Sekarang sudah jadi rumah-rumah begini,” ujarnya sambil tertawa.
Sugita memang tidak menghabiskan masa muda di Singaraja. Selepas SD ia melanjutkan pendidikan di Denpasar.
Pun demikian, Sugita yang kini usianya 69 tahun itu masih mengingat kenangan saat ia tinggal di Rumah Besar.
“Saya rindu suasana dulu. Bermain bersama di rumah ini dan halaman rumah yang luas,” ungkapnya.
Rumah Besar ini juga memiliki sejarah yang kaya akan peran Kapitan Lie dalam membawa kebudayaan dan kepercayaan Taoisme dan Konghucu ke Bali.
Patung Dewa Cheng Huang Ye (Seng Ong Ya), dewa pelindung kota, adalah bukti kontribusi Lie dalam memperkaya spiritualitas masyarakat setempat.
Patung tersebut kini menjadi pusat keagamaan di Klenteng Seng Hong Bio.
Pernyataan Sugita itu sejalan dengan penuturan rohaniawan Pipit Budiman Teja (Pik Hong).
Pada tahun 1909, Lie membawa patung itu dari Provinsi Hokkian, Tiongkok Selatan.
Patung Dewa Seng Ong Ya dibawa oleh Kapitan Lie Ing Tjie Bersama dua orang lainnya, Lie Chang dan Lie Ho saat Tiongkok dibakar huru-hara Yihetuan Movement (Boxer Rebellion).
Di balik kemegahan dan sejarah Rumah Besar, Kampung Baru juga menyimpan cerita tentang perjuangan dan keberanian Lie dalam meraih kesuksesan.
Awalnya Lie hanya seorang tukang cukur. Keuletan dan ketekunannya membawa Lie naik tangga kesuksesan.
Antika Yasa yang juga generasi keempat keturunan Kapitan Lie Ing Tjie menuturkan, kakek buyutnya itu konon adalah tuan tanah.
Asetnya tidak hanya di Buleleng, tetapi tersebar di beberapa wilayah di Bali.
Tanah yang menjadi miliknya ada yang diubah menjadi perkebunan sayur. Lokasinya tak jauh dari rumah besar yang menjadi tempat tinggal Kapitan Lie Ing Tjie.
Kapitan Lie juga disebut pernah memiliki perkebunan kopi yang cukup luas.
“Belakang rumah kami ini dulu adalah tanahnya Kong Co. Itu adalah kebun sayur. Diurus sama paman saya dengan 2 karyawannya. Sayurnya macam-macam, ada pokcoy, kol, brokoli. Cuaca dulu tidak seperti sekarang sehingga dulu sayuran itu tumbuh dengan baik di kawasan ini,” kata Antika.
Bisnis hasil bumi dengan merk dagang N.V. Xiang Tjoe perlahan meroket. Kapitan Lie lantas memperluas asetnya.
Pengaruh dan kekayaannya membuat pemerintah kolonial Belanda memberikannya gelar Kapitan Cina.
Antika menyebut, kakek buyutnya itu menjabat sebagai kapitan sejak tahun 1905 sampai dengan 1916.
Seiring waktu, kejayaan N.V. Xiang Tjoe memudar sejalan dengan Kapitan Lie Ing Tjie yang semakin hari tak mampu lagi mengelola kekayaannya.
Akhirnya, bisnis tersebut bangkrut seiring dengan meninggalnya Kapitan Lie Ing Tjie.
Hingga kini tak banyak benda yang dapat dilihat di rumah besar sepeninggal Kapitan Lie Ing Tjie.
Di sebuah ruangan dalam rumah itu terdapat satu set kursi kayu dengan alas duduk marmer. Rangka kayu dari kursi itu sudah goyang karena usia. Begitu pula dengan marmer yang terlihat retak.
“Hanya ini yang bisa diselamatkan dan masih ada di sini. Ada juga altar dan meja untuk persembahyangan yang masih utuh. Kata ayah saya, itu dibawa langsung dari Tiongkok,” tuturnya.
Konon, kursi-kursi antik itu sering dipinjam oleh orang-orang Tiongkok saat menikah. Namun kini sudah tidak dipinjamkan lagi lantaran kondisinya yang tidak memungkinkan.
“Saya punya keinginan untuk membuat replika satu set kursi ini. Jadi rumah tua ini, jika ada kesempatan dan biaya, saya ingin menjadikannya museum keluarga. Rumah ini direstorasi agar anak, cucu, cicit tahu silsilah keluarga dan sejarah keluarganya,” kata Antika. ***
Editor : Nyoman Suarna