BALI EXPRESS - Para petani padi di Bali memiliki tahapan ritual sangat unik sesuai tradisi Hindu.
Tahapan ritual dilakukan dengan berbagai upacara mulai dari pra menanam, waktu tanam hingga paska menanam.
Ritual ini penting dilaksanakan agar proses menanam padi hingga panen berjalan lancar dan terhindar dari gangguan hama.
Dosen Ilmu Budaya STAHN Mpu Kuturan Singaraja, I Gusti Agung Ngurah Agung Yudha Pramiswara, M.Si menjelaskan, pada dasarnya petani tradisional di Bali menginginkan hasil yang terbaik dari aktivitas bertaninya.
Di antaranya, mendapatkan air yang cukup, pengairan lancar, tanah yang subur, selamat (terhindar dari gangguan hama), hasil panen yang berlimpah.
Karena itu, dilakukan berbagai ritual/upacara yadnya sesuai dengan kepercayaan umat Hindu, mulai dari sebelum menanam padi (masa pratanam), waktu menanam padi (masa tanam), hingga masa paska tanam.
Pada masa pratanam ada sejumlah ritual yang dilakukan, yaitu mapag toya, marekang toya, ngendagin, dan ngurit.
Upacara Mapag Toya dilaksanakan di Ulunsuwi oleh kelompok tani atau subak sebelum mulai bekerja di sawah.
Ada beberapa sarana upacara yang digunakan yang sarat akan makna, di antaranya daksina pengeleb dan itik.
Daksina dan itik merupakan persembahan kepada Dewa Wisnu sebagai dewa air dan Dewi Gangga sebagai penguasa sungai.
Kemudian upacara marekang toya/marekang tirtha. Upacara ini berbeda dengan mapag toya.
Mapag toya dilaksanakan di Ulunswi sebagai ritual penjemput air untuk sawah, sedangkan marekang toya di dilaksanakan di pelinggih Bedugul sebagai ritual untuk keselamatan di sawah.
Ritual marekang toya akan diikuti dengan ritual nyepi di sawah.
Pada saat nyepi para anggota subak tidak dibenarkan bekerja di sawah, sebab mereka diharapkan untuk ikut mendoakan agar ritual berhasil.
Ritual marekang toya dilaksanakan di dua tempat, yaitu di Bedugul dan di sawah masing-masing.
Adapun wujud ritualnya yaitu menghaturkan peras daksina, canang, ketupat dampul di Bedugul.
Sedangkan di sawah masing-masing, dihaturkan canang, punjung putih kuning, segehan putih kuning, dan hitam.
Canang adalah lambang persembahan kepada Tuhan sebagai Tri Murti. Ketupat dampul adalah salah satu jenis ketupat sebagai lambang persembahan kepada Sedaan Carik sebagai penguasa sawah.
“Ritual marekang toya dimaksudkan untuk memohon kepada Tuhan dan manifestasi-Nya sebagai Sanghyang Tri Murthi, Sedaan Carik, Dewi Sri, dan Dewi Uma agar padi selamat dari serangan hama dan penyakit,” jelasnya.
Setelah itu dilanjutkan dengan ritual Ngendagin. Makna Ngendagin berarti memulai suatu pekerjaan di sawah, sebelum menanam padi.
Upacara Ngendagin dilakukan sebelum mulai mengerjakan atau mengolah tanah sawah.
Upacara ini bertujuan untuk mohon izin dan keselamatan kepada Sanghyang Ibu Pertiwi sebagai Dewa Bumi dan Dewi Uma sebagai penguasa sawah karena tanah sawah akan digarap atau diolah dengan cara dibajak dan dicangkul.
Selanjutnya dilaksanakan upacara ngurit menggunakan sarana berupa nasi kojong.
Nasi kojong terbuat dari nasi yang ditaruh di dalam daun pisang, kemudian dibentuk seperti kerucut dan di ujungnya dilengkapi dengan sebuah canang, keladi 'talas', kunyit 'kunir', nasi kepal, dan dupa.
Nasi kojong dihaturkan kepada Tuhan sebagai Dewa Bibit yang disebut dengan Sang Banaspati agar bibit yang disemai selamat.
Selain itu juga menggunakan sarana nasi kepel berwarna putih dan kuning yang dihaturkan kepada Dewa Bumi dengan maksud memohon tempat menyemai bibit.
Ada juga keladi dan kunyit yang mengandung makna agar bibit padi segera makenyit 'tumbuh' dan nadi 'hidup subur'.
Sarana ini dilengkapi dengan daun temen yang mengandung makna bahwa si petani mengharapkan agar apa yang diharapkan benar-benar terjadi.
“Ritual ngurit mengandung makna untuk mohon keselamatan kepada Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Bibit (Sang Banaspati) dan Dewa Bumi (Sang Hyang Ibu Pertiwi), serta Sang Hyang Tri Murti agar bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan hidup subur,” paparnya.
Setelah diadakan ritual pada masa pratanam, dilanjutkan dengan ritual pada masa menanam padi.
Ritual yang dilakukan pada masa tanam padi memiliki makna tertentu. Di antaranya upacara pangawiwit.
Upacara pangawiwit adalah ritual untuk memulai menanam padi di sebuah wilayah subak. Dalam hal ini ada seorang anggota subak yang bersedia sawahnya dijadikan tempat memulai menanam padi.
Kemudian ritual nandur, mempunyai makna 'menanam'. Ritual nandur dilaksanakan setelah ritual pangawiwit.
Adapun wujud ritualnya adalah menghaturkan sesaji berupa ketupat lepet, nasi yang warnanya sesuai sasih (bulan), ketupat sari genep.
Ketupat lepet memiliki makna sebuah suguhan yang dihaturkan kepada Tuhan sebagai Dewa Bibit yang disebut dengan nama Sang Banaspati dengan harapan memperoleh keselamatan.
Istilah lepet berasal dari kata luput yang berarti selamat.
Nasi penyumuan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah nasi sebagai persembahan awal.
“Ritual nandur mengandung makna sebuah harapan yang ditujukan kepada Tuhan sebagai Dewa Bibit, sebagai penguasa empat penjuru mata angin, dan sebagai Dewi Sri, agar padi yang baru ditanam memperoleh keselamatan hingga masa panen nanti,” sebutnya.