BALI EXPRESS - Pura Dalem Betawi diyakini sebagai perlambang keharmonisan Siwa dan Buddha sejak zaman dahulu.
Masyarakat juga meyakini bahwa Pura Dalem Betawi sebagai tempat memohon keturunan dengan bersembahyang dan berdoa di palinggih Gedong Buddha Dewi Kwan Im.
Pemangku Pura Dalem Betawi, Jero Mangku Karda mengatakan, banyak yang nangkil ke Pura Dalem Betawi untuk nunas tamba atau memohon kesembuhan dan keturunan.
Tidak jarang pemedek yang nangkil diberi kepasilan kelor dan jatu (daun jepun/kamboja yang tumbuh di area pura) oleh pemangku karena dipercaya berkhasiat untuk pengobatan.
Masyarakat di Banjar Jumpayah Desa Mengwitani meyakini Pura Dalem Betawi sangat keramat karena ida bhatara bhatari yang bersthana memiliki kawisesan.
“Banyak masyarakat memohon berkat berupa keselamatan, kesehatan hingga rejeki, terutama para pedagang agar laris berjualan,” sebutnya.
Piodalan di Pura Dalem Betawi berlangsung sebanyak tiga kali dalam setahun. Yang pertama adalah piodalan purusha, dilaksanakan setiap enam bulan sekali pada Buda Kliwon Matal. Piodalan ini merupakan puncak pujawali.
Kedua adalah piodalan predana, dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Sasih Kadasa, ditandai dengan ida bhatara bhatari tedun napak pertiwi dengan pementasan calonarang.
Kemudian ketiga adalah piodalan Imlek, dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Imlek yang dipusatkan di palinggih Gedong Buddha Dewi Kwan Im.
“Banyak warga keturunan Tionghoa bersembahyang ke Pura Dalem Betawi. Tidak hanya dari wilayah Desa Mengwitani, tetapi juga dari seluruh Bali,” paparnya.
Jero Mangku Karda menjelaskan, menjelang piodalan Imlek, banyak dari warga keturunan Tionghoa yang ngayah untuk menyiapkan kebutuhan upakara.
Piodalan Imlek dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Imlek, sehingga piodalan dipusatkan di palinggih Gedong Buddha Dewi Kwan Im.
Beraneka jenis pernak-pernik Imlek dengan warna merah dipasang di palinggih Gedong Buddha Dewi Kwan Im, termasuk lampion merah dengan tulisan Cina.
Warga Tionghoa juga melaksanakan persembahyangan dengan menggunakan dupa berwarna merah sebanyak 21 buah atau dalam jumlah ganjil. Karena memiliki makna keseimbangan, kemakmuran, kelimpahan anugerah, dan murah rejeki.
“Piodalan Imlek dipimpin oleh jero mangku sesuai tradisi Hindu di bali, walaupun persembahyangan diikuti warga keturunan Tionghoa. Toleransi beragama terlihat nyata dalam pelaksanaan piodalan Imlek, karena dua keyakinan menyatu dalam harmonisasi tanpa memandang perbedaan budaya,” tutupnya. ***
Editor : Nyoman Suarna