Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hutan di Desa Adat Sangeh Bali Dilindungi Awig-awig: Pelanggar Terancam Sanksi, Ini Bunyi Pasalnya

I Putu Mardika • Sabtu, 24 Februari 2024 | 15:34 WIB
HUTAN SANGEH: Hutan  Desa Adat Sangeh, Kecamatan Abiansemal,  Badung Bali dilindungi awig-awig. Ada pasal yang mengatur soal sanksi bagi pelanggar.
HUTAN SANGEH: Hutan Desa Adat Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung Bali dilindungi awig-awig. Ada pasal yang mengatur soal sanksi bagi pelanggar.

BALI EXPRESS - Perlindungan hutan tidak hanya menggunakan hukum positif atau ketentuan undang-undang, tetapi juga melalui hukum adat.

Seperti yang dilakukan Desa Adat Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali, kawasan hutan di desa setempat dilindungi oleh awig-awig.

Jika ada yang melanggar, akan dikenakan sanksi adat.

Awig-awig Desa Adat Sangeh disusun dengan semangat Tri Hita Karana, yakni sukerta tata parahyangan, sukerta tata palemahan dan sukerta tata pawongan.

Awig-awig Desa Adat Sangeh dibuat oleh krama desa adat, dipimpin prajuru adat yang diikuti oleh utusan masing-masing banjar di wilayah setempat.

Secara garis besar bantang awig-awig tersebut terdiri dari, Purwaning Atur, Sarga I yakni Aran lan Wewidangan, Sarga II yakni Petitis lan Pamikukuh, Sarga III yakni Sukerta Tata Pakraman.

Sarga III terdiri dari Palet 1 Indik Krama, Palet 2 Indik Prajuru, Palet 3 Indik Kulkul, Palet 4 Indik Paruman, Palet 5 Indik Padruen Desa.

Sarga IV Sukerta Tata Palemahan, terdiri dari Palet 1 Karang, Tegal lan Carik, Palet 2 Papayonan, Palet 3 Wewangunan, Palet 4 Wewalungan, Palet 5 Baya, Palet 6 Penyanggran Banjar.

Sarga V Sukerta Tata Agama, terdiri dari Palet 1 Dewa Yadnya, Palet 2 Rsi Yadnya, Palet 3 Pitra Yadnya, Palet 4 Manusa Yadnya, Palet 5 Bhuta Yadnya.

Sarga VI Kaskertan Tata Pawongan, terdiri dari Palet 1 Pawiwahan, Palet 2 Indik Balu/Nyapihan, Palet 3 Indik Sentana, Palet 4 Indik Waris.

Sarga VII Wicara lan Pamidanda, terdiri dari Palet 1 Indik Wicara, Palet 2 Indik Pamidanda, Sarga VIII Nguwah Uwuhin Awig-awig.

Sarga IX Samapta, Pangripta Awig-awig Desa Adat Sangeh.

Tokoh Adat Sangeh Ida Bagus Dipayana mengatakan, dalam Awig-awig Desa Adat Sangeh, peran prajuru adat dalam melestarikan hutan pala tertuang dalam Pawos 47 (2) yang menyatakan, “Kulawarga Desa Adat Sangeh tan kengin ngusak-asik ring sajeroning alas minakadi ngambil taru, rencek, buah pala, menyan lan sane siosan sadurung polih pamutus saking Prajuru Adat Sangeh.”

Berdasarkan bunyi Pawos 47 (2) tersebut, jelasnya, secara garis besar menyatakan peran prajuru adat sebagai pemutus dalam pertimbangan krama desa yang ingin mengambil kayu yang dilarang dalam awig-awig desa adat tersebut.

Kemudian dalam pararem Desa Adat Sangeh sebagai penjelasan dari Awig-awig Desa Adat Sangeh tersebut menyatakan pada wilangan 10: ”Yening wenten kulawarga sane mamurug pawos 47, nomor 2 Awig-awig Desa Adat Sangeh, kadanda antuk jinah bolong asli 200 kepeng".

Berdasarkan bunyi perarem tersebut, awig-awig Desa Adat Sangeh mengatur  soal sanksi yang diberikan kepada krama desa. Yang melanggar Pasal 47 (2) Awig-awig Desa Adat, akan dikenakan denda uang bolong asli sebanyak 200 kepeng.

Dipayana menyatakan, sesuai Awig-awig Desa Adat Sangeh, hutan pala yang ada di pelaba Pura Pucak Sari diatur dalam Pasal 47 (2) dan dijelaskan dalam perarem wilangan 10 yang mengatur larangan dan sanksi mengenai pelanggaran merusak hutan pala di wilayah Desa Adat Sangeh.

“Kelestarian hutan pala telah dilindungi oleh awig-awig beserta perarem sebagai aturan pelaksananya,” tutupnya. ***

Editor : Nyoman Suarna
#sanksi #bali #hutan #awig-awig #Desa Adat Sangeh #dilindungi