BANGLI, BALI EXPRESS- Mengarak ogoh-ogoh saat Pangrupukan atau sehari sebelum Nyepi merupakan hal lumrah di Bali.
Namun tidak semua desa di Bali memiliki tradisi ogoh-ogoh saat Pangrupukan.
Desa Adat Selulung contohnya, desa di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali itu tidak mengenal tradisi ogoh-ogoh.
Dari dulu tidak ada masyarakat yang membuat ogoh-ogoh, meski begitu suasana Pangrupukan di Desa Adat Selulung tampak meriah dan penuh makna, Minggu, 10 Maret 2024.
Sekaa teruna masing-masing banjar adat di wilayah Desa Adat Selulung secara umum menampilkan seni baleganjur yang dipusatkan di perempatan desa dan jaba Pura Dalem Purwa yang jaraknya sekitar 50 meter.
Pura Dalem Purwa ini merupakan tempat banjar adat mendak tirta Tawur Kasanga.
Sekaa teruna tampak antusias menampilkan kesenian yang disiapkan jauh-jauh hari.
Agar lebih meriah, sekaa teruna dari sejumlah banjar lengkap dengan tarian dan obor yang dirangkai sedemikian rupa, sehingga terlihat unsur seninya.
Ada juga yang tampil beda, yakni sekaa teruna dari Banjar Adat Nyawah. Sekaa teruna ini tidak menampilkan baleganjur, melainkan kulkul.
"Ini adalah kreativitas anak-anak muda yang didukung orang tua," ujar mantan Klian Adat Banjar Nyawah Nyoman Katos.
Katos yang juga anggota Sabha Desa Adat Selulung itu menegaskan bahwa tampil saat Pangrupukan ini merupakan kesempatan sekaa teruna unjuk kebolehan dalam bidang seni.
Sejauh ini tidak ada aturan khusus dari pihak desa soal gamelan yang dibawakan saat mendak tirta Tawur Kasanga itu.
"Selain kesenian yang tidak diatur, dana pembinaan dan lainnya juga tidak ada dari desa adat, maka sekaa teruna tampil sesuai kreativitas dengan mempertimbangkan anggaran yang ada," jelasnya.
Ke depan, Katos memastikan akan mendorong desa adat untuk menyiapkan anggaran khusus termasuk membuat format pementasan yang lebih baik.
Dengan begitu, kegiatan tersebut tak sekadar agenda rutin saban Pangrupukan, namun juga menjadi momentum untuk menggali potensi seni termasuk melestarikan kesenian di Desa Adat Selulung sekaligus hiburan masyarakat sehari sebelum menjalankan Catur Brata Penyepian.
"Pementasan seni saat Pangrupukan ini merupakan yang kedua. Saya lihat, dari 17 banjar adat di Desa Adat Selulung, belum semua berpartisipasi," sebut Katos.
Klian Adat Selulung I Wayan Karmawan membenarkan bahwa tidak ada tradisi ogoh-ogoh di desa adat yang terdiri dari dua desa dinas itu, yakni Desa Desa Selulung dan Desa Belantih.
"Apa yang kami dapatkan dari lingsir-lingsir, leluhur bahwa yang berhubungan dengan ogoh-ogoh karena di Selulung berhubungan dengan kegiatan topeng, matapel-tapelan itu tidak diperbolehkan," kata Karmawan.
Oleh karena itu, pada Pangrupukan kali ini, sekaa teruna masing-masing banjar adat mendak tirta Tawur Kasanga menampilkan baleganjur dan obor.
I Wayan Diar, Wakil Bupati Bangli sekaligus krama Desa Adat Selulung ditemui sela kegiatan mengapresiasi kegiatan tersebut.
"Ini sebenarnya dua fungsi. Pertama, fungsi dalam rangka Pangrupukan. Fungsi kedua, itu untuk membangkitkan kreativitas seni," kata Diar.
Diar mengingatkan bahwa kreativitas seni yang muncul dari krama ini harus dihargai oleh desa adat sehingga krama lebih termotivasi.
"Bagaimana desa adat ini bisa melakukan pembinaan dengan baik," jelas Diar. (*)
Editor : I Made Mertawan