Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Arsitektur Unik Bali: Mengungkap Misteri Tata Letak Rumah yang Dipandu Asta Kosala Kosali

I Putu Suyatra • Rabu, 13 Maret 2024 | 20:00 WIB
Pintu Halaman Bisa Pengaruhi Keadaan Penghuni Rumah
Pintu Halaman Bisa Pengaruhi Keadaan Penghuni Rumah

BALI EXPRESS - Tata letak rumah-rumah di Bali adalah kebijaksanaan Asta Kosala Kosali. Ini mengatur setiap aspek mulai dari pintu masuk hingga ruang suci di dalamnya.

Ada keyakinan, kesalahan dalam membuat pintu gerbang atau pintu pekarangan bisa menjadi akibat yang tidak terduga bagi penghuninya.

Asta Kosala-Kosali, tradisi arsitektur yang telah lama berjalan, terus memegang kendali atas lanskap Bali, terutama di desa-desa Bali Aga yang dihormati.

Konstruksi di sini bukan hanya masalah batu bata dan semen; itu adalah perhitungan yang tepat, bahkan hingga mempertimbangkan proporsi tubuh pemilik rumah.

"Pintu gerbang Angkul-angkul adalah tempat manusia dan dewa melintas, sementara pintu halaman menjadi jalur untuk hewan dan kendaraan," terang Pinandita I Ketut Pasek Swastika, penulis buku pencerahan "Indik Wewangunan," saat wawancara dengan Bali Express (Jawa Pos Group).

Swastika, mengatakan bahwa penempatan pintu halaman dapat memengaruhi nasib penghuninya, mempengaruhi segala hal mulai dari kesehatan hingga kemakmuran dan harmoni rumah tangga.

Penempatan yang salah, katanya, bisa mengganggu keseimbangan halus ini, mendorong pemilik rumah untuk menyelaraskan penempatan pintu dengan profesi mereka.

"Bagi para pedagang, menyelaraskan dengan perhitungan Dana Teka dan Wredhi Mas sangat penting. Diyakini bahwa keselarasan semacam itu menjamin perdagangan yang lancar dan kedamaian," tegasnya.

Untuk rumah-rumah biasa, Swastika merekomendasikan pertimbangan perhitungan Danwan, Redhi Guna, Kinabakten, Wredhi Mas, Akasih Prih, dan Dana Wredhi untuk pintu halaman, menjanjikan keselamatan dan penyelesaian bahkan di saat kesulitan.

Namun, Swastika memperingatkan agar tidak menyimpang dari pedoman yang ditetapkan ini.

Ini untuk mengantisipasi kemungkinan masalah seperti pertengkaran rumah tangga atau ketidaknyamanan yang tidak dapat dijelaskan dalam lingkungan tersebut.

Dia secara khusus memperingatkan tentang penggunaan perhitungan Stri Jalir, yang katanya bisa mengundang perselingkuhan.

Di hadapan lahan yang terbatas, Swastika mengusulkan praktik kuno pacaruan sebagai solusi.

Selain itu, dia menyarankan untuk menghias halaman dengan patung Ganesha, yang dikenal untuk menetralisir energi negatif, disertai dengan persembahan seperti saiban, secangkir kopi, atau barang-barang adat lainnya.

"Pacaruan harus dilakukan sesuai dengan tujuannya," tegasnya.

Melakukan persembahan saiban setiap pagi setelah memasak, minum secangkir kopi setiap hari, dan menawarkan permen sambil menjaga lampu minyak setiap malam, menurut Swastika, dapat menjamin ketenangan bagi pemilik rumah.

Dia juga menekankan pentingnya untuk tidak langsung menghadapi pintu halaman tetangga dan merekomendasikan penempatan patung Ganesha untuk menghindari keadaan yang tidak menguntungkan.

Jika sebuah rumah sudah menderita energi yang mengganggu karena pintu halaman yang salah tempat, Swastika meresepkan ritual pacaruan Pamahayu Karang Panes, proses dua langkah yang melibatkan upacara Ngupahayu Karang dan Caru Palemahan.

Ngupahayu Karang bertujuan untuk melindungi properti, seringkali dicapai dengan membangun Padma Capah (Andap) yang menghadap ke jalan atau sungai, sementara Caru Palemahan bertujuan untuk menetralkan pengaruh negatif. ***

 

 
 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #padma capah #asta kosala kosali #pekarangan #caru