BALI EXPRESS: Ritual perkawinan atau pawiwahan di Bali tak lepas dari sarana sebagai simbol tertentu.
Di antara sarana upacara perkawinan tersebut, salah satunya merupakan simbol kesetaraan gender antara pria dan wanita.
Simbol gender pada upacara perkawinan Hindu di Bali tampak pada banten.
Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, M.Pd menjelaskan, ada sejumlah sarana yang digunakan sebagai simbol purusa-pradana (pria dan wanita) dalam upacara perkawinan.
Sarana upacara tersebut berisi perlengkapan sebagai simbol kesetaraan laki-laki dan perempuan yang ditampilkan berdampingan.
Selain itu, sarana upacara ini juga merupakan sebuah harapan agar setelah menikah pasangan suami istri ini senantiasa hidup berdampingan.
Ia menjelaskan, sarana tersebut di antaranya Sayut Patemon (pawarangan), Banten Sayut Plakempa, Sayut Pagoyan, Rantasan Luh dan Muani, kain kuning, dan Sesayut Ardanareswari
Sayut Patemon/Pawarangan untuk pengantin perempuan memakai alas dulang.
Di atasnya diisi kulit sayut, berisi tumpeng merah 1, dagingnya ayam merah/biing dipanggang, buah-buahan, penyeneng alit, peras alit, sampian nagasari, canang payasan, benang merah.
Sedangkan untuk yang laki alasnya dulang, di atasnya diisi kulit sayut, berisi tumpeng putih 1, dagingnya ayam putih dipanggang, buah-buahan, penyeneng alit, peras alit, sampian nagasari, canang payasan, benang putih.
Upakara Sayut Patemon berisi tumpeng merah, daging ayam merah, benang merah merupakan simbol perempuan.
Karena perempuan memiliki kama swanita yang ditandai dengan menstruasi berupa darah berwarna merah.
“Sedangkan laki-laki disimbolkan dengan tumpeng putih, daging ayam putih, dan benang putih karena lali-laki memiliki kama petak berupa sperma berwarna putih,” kata Wayan Murniti.
Sarana selanjutnya adalah Banten Sayut Plakempa.
Banten untuk perempuan ini ditata di atas nyiru (tempeh). Di atasnya diisi kulit sayut, nasi dengan guratan 9 buah, penek, setengah butir kelapa, putih telur didadar dan diukir, diletakkan di atas nasi guratan 9.
Di atas penek ditancapkan bunga teratai putih.
Kemudian untuk laki-laki dasarnya tampah, di atasnya diisi kulit sayut, diisi nasi dengan guratan 7 buah.
Di atasnya diisi penek di atas setengah butir kelapa, kuning telur didadar dan diukir diletakkan di atas nasi guratan 7, di atas penek ditancapkan bunga teratai kuning
Pada Banten Sayut Plakempa, perempuan disimbolkan dengan warna kuning sebagai lambang kemakmuran, sedangkan laki-laki disimbolkan dengan warna putih sebagai lambang kesucian.
“Jadi putih-kuning merupakan lambang kemakmuran dan kesucian,” katanya.
Sarana yang melambangkan gender selanjutnya adalah Sayut Pagoyan.
Khusus untuk perempuan disiapkan 2 buah dulang yang masing-masing di tengahnya ditancapkan batang pisang kecil.
Kemudian ditusukkan berbentuk melingkar sebanyak 27 jajan gender.
Kemudian bagi laki-laki jumlahnya 33 tusuk.
Untuk yang perempuan jajannya berwarna kuning dan laki-laki berwarna putih. Paling atas diisi sampian pagoyan.
Sayut pagoyan ini akan diletakkan berdampingan sebagai simbol pengantin laki dan perempuan.
“Sayut Anten terdiri dari sayut anten Yoni (perempuan) dan sayut anten Lingga (Laki-laki),” paparnya.
Editor : Nyoman Suarna