BALI EXPRESS - Desa Adat Panji di Buleleng, Bali, kembali memeriahkan Tahun Baru Saka 1946 dengan tradisi unik Megoak-Goakan.
Tradisi unik Hindu Bali ini, kata Mangku Made Ariawan, Kepala Desa Panji, merupakan simbol semangat pasukan Goak dalam menggempur Kerajaan Blambangan yang dipimpin oleh Ki Barak Panji Sakti.
Ratusan Pemuda Berpartisipasi
"Ratusan pemuda sudah berkumpul sejak pukul 15.00 siang di lapangan Ki Barak Panji," jelas Mangku Panji.
Mereka mengenakan pakaian adat madya dan bermain di lapangan yang telah diisi air.
Permainan Penuh Semangat dan Makna
"Permainan ini dimainkan oleh 8-10 orang yang membentuk barisan memanjang," kata Mangku Panji. Pemain di depan harus menangkap "ekor" di belakang.
Tradisi ini bukan hanya seru, tapi juga mengandung makna tentang kerjasama, ketangkasan, dan strategi.
Empat Lokasi Permainan dan Sejarah Singkat
Megoak-Goakan diadakan di empat lokasi:
- Sekeha Truna Cambuk Tugu Monument Bhuana Kerta
- Lapangan Ki Barak Panji
- Areal persawahan kawasan gang salak Banjar Kembang Sari
- Kawasan Babakan
Tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak masa pemerintahan Ki Gust Ngurah Panji Sakti (1660-1697 M).
Baca Juga: Tradisi Mepajar di Desa Sumerta: Rahasia dan Keindahan Tarian Rangda dan Urutan Prosesinya
"Pasukan Teruna Goak, yang dipimpin oleh I Gusti Made Bahatan, terkenal dengan ketangguhan dan kesetiaannya," ungkap Mangku Panji.
Terinspirasi dari Burung Gagak
Permainan Megoak-Goakan terinspirasi dari burung gagak (goak) yang dengan taktik jitu mampu menangkap mangsanya.
"Raja Ki Barak Panji Sakti melihat kehebatan ini sebagai strategi yang dapat digunakan dalam pertempuran," kata Mangku Panji.
Simbol Semangat Juang dan Spirit Membangun Desa
Tradisi ini menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBT) Nasional sejak 2020.
Baca Juga: Misteri dan Pesona Ilmu Pengasihan atau Pelet Bali: Ada 6 Lontar
"Spirit Megoak-Goakan, yaitu semangat kepahlawanan, kesetiakawanan, dan gotong royong, menjadi landasan dalam membangun Desa Panji," jelas Mangku Panji.
Persembahyangan dan Puncak Acara
"Sebelum permainan dimulai, para pemain Megoak-Goakan melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Pajenengan untuk memohon keselamatan dan kelancaran," kata Mangku Panji.
Permainan berlangsung hingga sore hari, menjadi puncak kemeriahan Ngembak Geni di Desa Panji.
Tradisi Megoak-Goakan: Kearifan Lokal yang Unik dan Penuh Makna
"Tradisi Megoak-Goakan merupakan kearifan lokal Desa Panji yang mencerminkan nilai-nilai luhur seperti kerjasama, ketangkasan, strategi, semangat juang, dan gotong royong," kata Mangku Panji.
Baca Juga: Misteri dan Pesona Ilmu Pengasihan atau Pelet Bali: Ada 6 Lontar
Tradisi ini menjadi daya tarik wisata budaya yang unik dan menarik untuk disaksikan.
Urutan Prosesi Tradisi Megoak-Goakan di Desa Adat Panji
1. Persiapan
- Sehari setelah Nyepi (Ngembak Geni), para pemuda di Desa Adat Panji bersiap untuk mengikuti tradisi Megoak-Goakan.
- Mereka mengenakan pakaian adat madya.
- Lapangan yang akan digunakan untuk bermain dibersihkan dan diisi air.
2. Persembahyangan
- Para pemain Megoak-Goakan melakukan persembahyangan bersama di Pura Pajenengan untuk memohon keselamatan dan kelancaran.
- Persembahyangan ini dipimpin oleh pemangku adat.
3. Permainan Megoak-Goakan
- Permainan dimulai dengan membagi para pemain menjadi beberapa kelompok.
- Setiap kelompok terdiri dari 8-10 orang.
- Para pemain berbaris memanjang dengan memegang pinggang teman di depan mereka.
- Pemain di depan barisan disebut "kepala goak" dan pemain di belakang barisan disebut "ekor goak".
- Tujuan permainan ini adalah "kepala goak" harus menangkap "ekor goak".
- Permainan berlangsung dengan penuh semangat dan keceriaan.
4. Puncak Acara
- Permainan Megoak-Goakan diakhiri dengan penyerahan hadiah kepada kelompok yang memenangkan permainan.
- Para pemain dan penonton kemudian beramah tamah dan menikmati hidangan yang telah disediakan.
Tambahan:
- Tradisi Megoak-Goakan biasanya berlangsung selama beberapa jam.
- Tradisi ini merupakan salah satu tradisi yang paling dinanti-nantikan oleh masyarakat Desa Adat Panji.
- Tradisi Megoak-Goakan merupakan tradisi yang turun-temurun dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Adat Panji.
Editor : I Putu Suyatra