BALI EXPRESS - Gambelan gambang, sebuah kesenian sakral yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Hindu Bali, telah lama menjadi sorotan dalam upacara adat di pulau ini.
Meskipun dalam lontar disebutkan bahwa gambang secara khusus digunakan dalam upacara sarwa prateka, namun kenyataannya, penggunaannya telah meluas untuk mengiringi beragam upacara keagamaan, termasuk upacara Dewa Yadnya.
"Di Bali tengah dan selatan gamelan ini dimainkan untuk mengiringi upacara ngaben (Pitra Yadnya). Sementara di Bali Timur (Karangasem dan sekitarnya, Red) Gambang juga dimainkan dalam kaitan upacara odalan di Pura-Pura atau Dewa Yadnya," ujar Budayawan Kota Denpasar, I Gede Anom Ranuara ketika diwawancarai Bali Express (Jawa POs Group).
Kesenian Gambelan Gambang diyakini telah ada di Bali sejak abad ke-IX hingga X Masehi.
Jejak sejarahnya bahkan dapat ditemukan dalam relief candi Penataran, Jawa Timur pada abad ke-XV.
Istilah gambang juga telah disebutkan dalam kisah Malat dari masa Majapahit akhir, menandakan usianya yang sangat tua.
Namun, pertanyaan seputar asal-usulnya di Bali dan hubungannya dengan Gambang dalam Malat masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
"Secara etimologi Gambang adalah salah satu jenis gambelan langka dan sakral. Termasuk ke dalam gambelan dengan barungan alit yang dimainkan hanya untuk mengiringi upacara keagamaan," tambah Anom.
Anom Ranuara mengatakan, Gambelan Gambang menggunakan laras pelog atau memiliki tujuh nada.
Dalam barungan gambelan gambang terdiri dari 6 buah instrumen berbilah.
Adapun yang peling dominan yakni 4 buah instrumen berbilah bambu yang dinamakan gambang yang terdiri dari (yang paling kecil ke yang paling besar) dalam istilahnya dikenal dengan pametit, panganter, panyelad, pamero dan pangumbang.
"Setiap instrumen dimainkan oleh seorang penabuh yang mempergunakan sepasang panggul bercabang dua untuk memainkan pukulan kotekan atau ubit-ubitan, dan sekali-kali pukulan tunggal atau kaklenyongan," jelasnya.
Gambelan Gambang menjadi penting dalam upacara-upacara keagamaan di Bali, seperti upacara ngaben (Pitra Yadnya) di tengah dan selatan Bali.
Begitu juga dalam upacara odalan di Bali Timur, seperti di Pura-Pura atau Dewa Yadnya.
Daerah-daerah yang dianggap sebagai kampung halaman Gambang di Bali antara lain Tenganan, Bebandem (Karangasem), Singapadu, Saba, Blahbatuh (Gianyar), Kesiut (Tabanan), Kerobokan, dan Sempidi (Badung).
Dari uraian yang terdapat dalam lontar tersebut secara jelas dinyatakan bahwa gembelan gambang merupakan salah satu perangkat alat musik tradisional yang sangat diperlukan pada pelaksanaan upacara pitra yadnya di samping beberapa jenis gambelan lainnnya.
Meskipun demikian, dalam pelaksanaan upacara ngaben di Bali, tidak semua menggunakan Gambelan Gambang.
Ini terkait dengan tingkatan pelaksanaan upacara, yakni Nista, Madya, dan Utama, yang mempengaruhi pemilihan jenis musik yang digunakan.
Namun, pada tingkatan tertinggi, yang disebut ngaben ngewangun, Gambelan Gambang sering digunakan, mengikuti keyakinan bahwa musik ini membantu mengantarkan roh ke sorga. ***