Jejak Misteri Spiritual Desa Sidatapa, Buleleng: Makna Taksu Bali dan Penyebutan Tuhan yang Berbeda dengan Umat Hindu Bali di Tempat Lain
I Putu Mardika• Selasa, 26 Maret 2024 | 17:48 WIB
Salah satu Pura atau tempat suci Hindu di Desa Sidetapa, Buleleng, Bali.
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Desa Sidatapa, sebuah permata tersembunyi di Buleleng, Bali, memikat para penjelajah dengan pesona budaya dan spiritualitasnya yang unik. Salah satunya penyebutan Tuhan di sana berbeda dengan umat Hindu Bali di tempat lain.
Di desa Bali Aga ini, tradisi leluhur masih dilestarikan dengan penuh hormat, menghadirkan pengalaman autentik bagi para pengunjung.
Dipercaya berdiri sejak tahun 785 Saka atau 863 Masehi, Desa Sidatapa memiliki sejarah yang kaya.
"Itu artinya sebelum Pura Desa dibangun, wilayah Sidatapa sudah didiami para pendahulu kami. Karena kan tidak mungkin baru ada pemukiman, langsung membangun pura, pasti bertahap," ujar Tokoh Desa Sidatapa, I Wayan Wireyasa, kepada Bali Express.
Menurut Wireyasa, legenda suci Maha Rsi Markandeya memberi warna tersendiri pada warisan Desa Sidatapa.
"Desa Adat Sidatapa diperkirakan mulai didirikan pada tahun 785 Saka oleh Dewa Gede Penyarikan, yang datang pertama kali ke Sidatapa dan melihat wilayah tersebut sangat subur dan cocok untuk bermukim hingga diberi nama Gunung Sari," jelasnya.
Perjalanan mereka mengarahkan mereka ke pemukiman berkelompok, menempati wilayah yang kini dikenal sebagai Banjar Leked, Banjar Sengkarung, dan Banjar Tegal Mendung atau Kunyit.
"Kelompok yang pertama datang dari kelompok Pasek Tempur, mereka menempati wilayah di sebelah utara Desa Adat Sidatapa sekarang. Wilayah tempat kelompok Pasek ini diberi nama Banjar Leked," tambahnya.
Sabha Desa Sidatapa menekankan bahwa warisan Rsi Markandeya masih sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari mereka.
"Bali Taksu itu artinya banten yang tidak menggunakan tamas, reringgitan, daksina. Sarana upakara seperti buah-buahan itu dipersembahkan dengan alas menggunakan daun pisang," paparnya.
Namun, inti spiritualitas Desa Sidatapa tidak terbatas pada tradisi lisan atau tertulis saja.
Tuhan mereka, Ida Panembahan, memegang peranan penting dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Keyakinan pada Ida Panembahan dan kekuatan delapan taksu menjadi pusat kehidupan spiritual mereka.
Upacara-upacara seperti pujawali di Pura Desa menjadi momen sakral yang dihiasi dengan nyanyian, tarian, dan kesadaran spiritual yang mendalam.
“Makanya saat pujawali kami menghaturkan tabuh Nyongnyongan, Tabuh Jaran Sinduk, Tamu-Tamiu. Kami juga memiliki tari-tarian, seperti Tari Ngabuang, Tari Meleganti. Penari kadang tidak sadar saat menarikan atau istilah trance (kerauhan),” imbuhnya.
Desa Sidatapa bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi sebuah penjaga kekayaan budaya dan spiritual Bali Aga yang tak ternilai harganya.
"Dari periodisasi sejarah Bali, peradaban Desa Sidatapa masuk dalam periodisasi di Bali Kuno dari kisaran tahun 722 Masehi sampai 1343 Masehi. Karena kami sudah membangun pura desa kala itu," ungkap Wireyasa.
Menyentuh Jiwa dengan Konsep "Ida Panembahan":
Masyarakat Sidatapa menyebut Tuhan dengan sebutan "Ida Panembahan", menunjukkan rasa hormat dan kedekatan spiritual mereka.
Keyakinan mereka terhadap delapan taksu yang tersebar di delapan penjuru arah mata angin mencerminkan harmoni dengan alam.
Menyaksikan Kesederhanaan Sakral dalam Tradisi:
Konsep "Bali Taksu" tercermin dalam upakara Pura Desa yang sederhana tanpa tamas, reringgitan, dan daksina.
Buah-buahan dipersembahkan dengan alas daun pisang, melambangkan kesederhanaan dan kedekatan dengan alam.
Menapaki Jejak Leluhur:
Desa Sidatapa didirikan pada tahun 863 Masehi, dengan Pura Desa yang telah berdiri sejak saat itu, menjadi saksi bisu sejarah panjang desa.
Pengaruh Maha Rsi Markandeya dan pengikutnya masih terasa dalam tradisi dan ritual desa.