Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Munya di Desa Sidetapa: Keunikan Ritual Hindu Bali yang Menjadi Bagian Akhir dari Perkawinan Bali Aga

I Putu Mardika • Selasa, 26 Maret 2024 | 18:39 WIB
MUNYA: Rumah adat menjadi tempat dilaksanakannya tradisi Munya. Dok Bali Express
MUNYA: Rumah adat menjadi tempat dilaksanakannya tradisi Munya. Dok Bali Express

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Desa Sidetapa, terletak di Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, terkenal dengan Tradisi Munya, sebuah ritual penting yang menjadi bagian dari prosesi perkawinan Hindu di komunitas Bali Aga.

Ritual ini, yang merupakan salah satu dari banyaknya upacara adat di sana, merupakan langkah penting dalam mengesahkan status perkawinan di kalangan krama desa adat ngarep.

Menurut Putu Nadia, Prajuru Desa Adat Sidetapa, menyebut tidak ada catatan tertulis yang menunjukkan kapan Tradisi Munya dimulai.

Namun ritual ini telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian tak terpisahkan dari keyakinan masyarakat setempat.

Tradisi Munya, lanjut Nadia, merupakan upacara transaksi niskala.

Yakni pihak keluarga mempelai pria memberikan sejumlah barang kepada keluarga mempelai wanita sebagai tanda penghormatan atas susah payah yang telah dilakukan oleh keluarga mempelai wanita dalam membesarkan calon mempelai wanita.

“Secara psikologi, anak gadis itu kan sangat bertanggung jawab untuk membantu orang tuanya di rumah, maka pihak keluarga mempelai pria merasa bersalah karena telah mengurangi satu tenaga yang diajak ikut menanggung beban keluarga,” ujarnya.

Munya, sebagai bagian terakhir dari upacara perkawinan di Sidetapa, menandai kesempurnaan status pernikahan calon pasangan.

“Itu pertanda jika sang gadis sudah sah dan sepenuhnya menjadi milik mempelai pria," tegasnya.

"Secara niskala, kedua mempelai ini nantinya sudah siap ngayah maupun melaksanakan persembahyangan di semua pura yang ada di wilayah Desa Adat Sidetapa” imbuhnya.

Pada prosesi ini, mempelai pria datang ke rumah mempelai wanita untuk memberitahukan secara simbolis kepada panembahan dari pihak mempelai wanita bahwa gadis tersebut telah sah menjadi miliknya.

Dalam pelaksanaan Munya, berbagai sarana digunakan, termasuk banten janggar kiuh yang berisi berbagai macam perlengkapan upacara adat.

Pemandu utama dalam prosesi Munya adalah Pemadean atau Permas, yang merupakan tokoh-tokoh penting yang dipilih secara simbolis oleh panembahan setempat.

Mengenai waktu pelaksanaan, Nadia menjelaskan bahwa prosesi Munya dapat dilakukan kapan saja sesuai kesepakatan kedua belah pihak, kecuali pada beberapa hari yang dianggap kurang baik, seperti semut sedulur, kala gotongan, dan kasanga.

Ada juga aturan khusus yang harus diperhatikan, seperti kondisi kedua mempelai yang tidak boleh dalam keadaan cuntaka, serta larangan bagi keluarga yang memiliki anak yang belum 'tutug kambuhan' atau dalam bahasa lokalnya, satu bulan tujuh hari pasca melahirkan.

Hal itu karena dianggap sebagai keadaan yang tidak proporsional dalam konteks ritual tersebut. 

Sejarah dan Makna Tradisi Munya:
  • Diwariskan secara turun-temurun, tanpa referensi tertulis.
  • Diperuntukkan bagi krama ngarep, krama desa adat yang diakui.
  • Melambangkan transaksi jual-beli niskala sebagai penghormatan kepada keluarga mempelai wanita.
  • Menandakan kesiapan kedua mempelai untuk ngayah dan bersembahyang di pura desa.

Prosesi Tradisi Munya:

  • Mempelai pria datang ke rumah mempelai wanita untuk matur piuning.
  • Simbolisasi penyerahan tanggung jawab dan pengakuan secara niskala.
  • Dipimpin oleh Pemadean atau Permas, tetua yang dipilih Ida Sesuhunan.

Sarana yang Digunakan:

  • Banten janggar kiuh, berisi wakul dengan daun sirih, pinang, pasepan, tembakau, uang kepeng, dan canang sari.

Waktu Pelaksanaan:

  • Fleksibel, sesuai kesepakatan kedua belah pihak.
  • Menghindari hari semut sedulur, kala gotongan, dan kasanga.
  • Memastikan kedua mempelai dan keluarga tidak cuntaka.

Baca Juga: Upacara Ngusaba Gede Lanang Kapat: Tradisi Unik Hindu Bali Mulai dengan Nyejep hingga Ngelungang

Lebih dari Sekadar Tradisi:

  • Munya mencerminkan nilai-nilai luhur budaya Bali Aga.
  • Memperkuat rasa persaudaraan dan kekeluargaan di desa.
  • Mendorong generasi muda untuk melestarikan tradisi leluhur.

***

Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #sidetapa #hindu #tradisi #perkawinan #buleleng