Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Khusus Jika Menabrak Kucing di Jalan, Mengapa Penting untuk Dilakukan?

I Putu Suyatra • Jumat, 29 Maret 2024 | 01:38 WIB
ilustrasi Kucing
ilustrasi Kucing

BALI EXPRESS - Bagi masyarakat Hindu Bali, menabrak kucing bukan hanya soal kecelakaan, tapi juga terkait dengan kepercayaan dan ritual.

Kucing dianggap sebagai hewan istimewa yang memiliki sisi magis.

Menabraknya diyakini dapat mendatangkan kesialan, sehingga perlu dilakukan ritual khusus untuk menetralisir energi negatif dan memohon keselamatan.

Kucing, sebagai salah satu binatang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat, terutama umat Hindu di Bali.

"Ini sudah menjadi bagian dari kepercayaan. Karena kucing adalah hewan yang pingit," ujar Jro Mangku Dore dari Desa Baluk, Jembrana, Bali.

Selain menjadi hewan peliharaan favorit, kucing juga dikenal karena tingkah lucu dan kecermatannya dalam menghalau hama.

"Kucing dipercaya bisa melihat keberadaan makhluk halus atau tempat-tempat yang angker. Seolah ingin memperingatkan tuannya, kucing menunjukkan tingkah laku yang aneh," tambahnya.

Dalam agama Hindu, mengonsumsi daging kucing sangat dilarang.

Hal ini sesuai dengan ajaran Nitisastra 12 yang menyebutkan bahwa orang baik-baik tidak boleh makan daging yang tidak suci.

Namun, seringkali kucing lebih aktif di malam hari dan cenderung menyeberang jalan, sehingga tak jarang pengendara tidak sengaja menabrak atau melindasnya.

"Ini sudah menjadi bagian dari kepercayaan. Karena kucing adalah hewan yang pingit," ujar Jro Mangku Dore dari Desa Baluk, Jembrana.

Bagi masyarakat Bali, menabrak kucing dianggap sebagai tanda buruk dan dapat mendatangkan kesialan.

Oleh karena itu, jika hal tersebut terjadi, dibutuhkan ritual khusus sebagai permohonan maaf dan penolak bala.

"Ritual ini melibatkan berbagai banten atau sesajen, seperti panebusan dan prayascita," tambah Jro Mangku Dore.

Pesannya adalah agar manusia lebih berhati-hati dalam bertindak, terutama saat berkendara di jalan raya.

Setiap hewan, termasuk kucing, hendaknya diperlakukan dengan baik, karena hewan juga makhluk hidup yang diciptakan Tuhan untuk kesejahteraan dunia.

Ritual Menabrak Kucing di Bali: Mitos dan Maknanya

 

Ritual Penebus dan Prayascita

Ritual ini umumnya dilakukan di tempat kejadian atau di perempatan jalan utama (catus pata). Tujuannya untuk:

  • Menebus "nyama pat" (empat saudara) kucing yang konon tertinggal di lokasi kecelakaan.
  • Menyucikan orang yang menabrak dan kendaraannya.

Sarana Ritual

Beberapa sarana penting yang digunakan dalam ritual ini:

  • Ayam biying (bulu merah): Simbol peredam energi brahma dan pengganti "saudara" yang bersangkutan.
  • Daun dadap: Pohon sakti yang memberikan kesejukan secara sekala (nyata) dan niskala (gaib).
  • Banten (sesajen): Panebusan dan prayascita.

Proses Ritual

  1. Pamangku (pemangku adat) mengantarkan doa dan mempersembahkan sesajen.
  2. Ayam biying dipatuk-patukkan ke tanah 3 kali, kemudian dilepaskan.
  3. Tanah ditepuk 3 kali, dioleskan kepada orang yang menabrak, dan diletakkan di atas daun dadap.
  4. Dilakukan ritual prayascita untuk membersihkan orang dan kendaraan.

Baca Juga: Menggali Kebijaksanaan Seksualitas dalam Ajaran Hindu: Rahasia Kesejahteraan dan Kebahagiaan Berdasarkan Lontar Rahasya Sanggama

Pesan Moral

Ritual ini bukan hanya tentang mitos, tapi juga sebagai pengingat agar manusia:

  • Berhati-hati dalam bertindak, terutama saat berkendara.
  • Memperlakukan hewan dengan baik, termasuk kucing dan hewan peliharaan lainnya.
  • Meningkatkan kualitas diri, senantiasa berhati-hati, dan menjaga konsentrasi saat melakukan kegiatan.

 

 
 
Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #mitos #Prayascita #kucing #hindu